Langsung ke konten utama

Scienctivic; Rational and Empirical Study - Guru Gembul

 

Dimulai dari INDRA
.

Saya terharu dengan Pak Nuruddin yang sampai membaca, dan menonton banyak sekali podcast saya. Dalam keadaan saya belum pernah membaca satupun buku2 beliau. Tapi ya tidak apa2, bahkan saya tidak bawa power point, tidak bawa apa2 karena memang secara khusus saya meremehkan diskusi kali ini. Kenapa? bukan karena meremehkan Pak Nuruddin, tapi meremehkan KIERA. 

Tapi menarik perhatian buat saya adalah berkali kali Pak Nuruddin mengatakan bahwa saya mengatakan yang dimaksud dengan ilmiah itu hanya empiris saja, hanya terindra saja. Saya (Demi Alloh) saya tidak pernah mengatakan yang seperti itu. Saya hanya mengatakan bahwa studi ilmiah itu dimulai dari konfirmasi Indrawi, "dimulai dari" bukan secara keseluruhan. Jadi kalau misalkan sesuatu, belum dikonfirmasi secara indrawi, maka rasional menjadi sulit untuk bisa dicapai.

Great Respect for Mr. Nuruddin, who has gone so far, reading and watching many of my podcasts, Even though I haven’t read a single one of his books. But it’s okay...

Even I didn’t bring a PowerPoint or anything because, to be honest, I didn't take this discussion too seriously. Why?
Not because I’m underestimating Mr. Nuruddin,
but because I’m underestimating KIERA.

Anyway, caught my attention is that Mr. Nuruddin repeatedly stated that I've claimed that science is purely empirical with sensory. I swear to God, I never said anything like that. I only said that "Scientific study begins with sensory confirmation"; it begins from there, not as a whole.

So, if "something hasn’t been confirmed through sensory, then becomes difficult to be approached rationally."

Cuplikan Video bisa kalian saksikan di sini, temen2

 

Cara Pembuktian
.

Kalau misalkan ada pertanyaan, saya di sini, bisa gak? dirasionalisasikan? 

Bisa.. setelah diindra dulu. 

Betul ya? Saya bisa dirasionalisasikan, setelah diindra dulu. 

Lalu, bagaimana menyusun rumus2 rasionalisme, tanpa mengindranya dulu? 

Oke.. 

Saya ulang lagi ya, sekarang saya ada di sini. Dari mana bukti saya ada di sini? Diindra dulu, baru dirasionalisasikan.

Saya garis bawahi ya, cara pembuktian.  Saya ada di sini, itu pakai indra dulu, baru rasio kemudian. Begitu kan?
 

Kalau tidak diindra dulu, cara merasiokanya gimana?
Gimana?
Gimana cara merasiokan (sesuatu) yang belum terindra?  Coba ada yang jawab? apa saya ulang lagi pertanyaanya? 


If there’s a question, "I’m here, can to be rationalized?"
Yes could be rasionalized, only after using sensory first.

Is that right? I could be rationalized, After being sensed first.
And then, how can we formulate rationality without using sensory first? 

Alright…? Let me repeat it again.

Now I am here. Where’s the proof that I’m here? First, it must be using sensory, then could be rationalized.
Let me emphasize, the method of proofing, that I’m here, it requires the senses first, then rationalized. Is that correct?
If (something) could'nt be sensed, how could be rationalized?
How?
How do you rationalize (something) that hasn’t been sensed?

Somebody here could answer this question?
Or should I repeat the question again?

Cuplikan Video bisa kalian saksikan di sini, temen2


Akidah dan Ilmiah
.

Saya mohon maaf, sekali lagi, saya meremehkan diskusi ini, bukan meremehin orang2 yang ada di sini. Tetapi sejak awal saya mempertanyakan kenapa ada bahasan2 yang terkait dengan Ketuhanan tapi menggunakan sudut pandang filsafat, atau sudut pandang yang akademik dan sebagainya. 

Karena sejak awal, sudah menjadi kesepakatan bersama di antara kaum muslimin, bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala itu tidak bisa dipahami oleh nalar manusia. Jangankan nalar, yang tahu keberadaan Allah, tahu tentang Allah saja, baru dijanjikan nanti di akhirat. Itupun hanya untuk orang2 tertentu. Jadi bagaimana ceritanya ada orang2 di dunia, yang bisa menjelaskan tentang Allah. Menjelaskan dengan kajian ilmiah (kajian empiris dan rasional dan seterusnya). 


Jadi misalkan ada sebuah pernyataan bahwa Allah tidak ada bandinganya, tidak bisa dibandingkan, tidak ada yang setara dengaNya. 

 

I sincerely apologize once again, I have belittled this discussion, not to underrate anyone here. From the beginning, I’ve questioned, 

"Why are there discussions related to divinity?" 

using philosophical or academic perspective, or similar frameworks.

Because it has been an agreement among Muslims, that Allah the Almighty God, cannot be fully comprehended by human reasoning. Even reasoning aside, simply "knowing" of Allah’s existence and attributes is something that has been promised for the hereafter, only to certain individuals. So, how can people in this world claim to explain Allah? Especially through scientific studies (empirical, rational analyses, and so on).

For instance, there is a statement that Allah is incomparable, that nothing can be equated to Him.


لَیۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَیۡءࣱ 

وَلَمۡ یَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ


Nah karena tidak ada yang setara dengaNya, secara definitif berarti Dia tidak mungkin dijelaskan, dan tidak mungkin bisa dipahami. Jadi Allah secara hakikat tidak mungkin bisa dipahami, sehingga setiap bahasa2 yang berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala akan sulit sekali untuk bisa ditelaah oleh manusia. Bahkan bisa dikatakan tidak bisa ditelaah oleh manusia. 

Sehingga Imam Malik, dalam sebuah pernyataan yang sangat terkenal itu mengatakan bahwa "kalau dengar dalil tentang Allah, dengerin saja, tapi jangan sampai bertanya bagaimana". 

Misalkan kalau ada istilah "Allah istiwa-" . Istiwa- itu jangan ditanyain bagaimana,

Since nothing can be compared to Him, it definitively means that He cannot be explained or fully comprehended. In essence, Allah cannot be understood, making any language or discourse related to Allah the Most Glorious and Exalted, extremely difficult or impossible for humans to analyze.

So Imam Malik, in a well-known statement, said: “When you hear verse about Allah, listen to it, but do not ask how.”

Suppose there is a term Allah istiwa-, about istiwa- do not question how it happens.

 

الاستواء معلوم ، والكيف مجهول

والإيمان به واجب

والسؤال عنه بدعة

 

karena apa? karena nalar kita itu tidak mungkin bisa menjangkauNya, tidak mungkin bisa mengetahuiNya. 

Why is that? Because our reasoning can never reach Him, nor can it ever truly comprehend Him.


Dan karena itu, ada sebuah hadits yang sebenarnya tidak shohih, tapi ini banyak digunakan sebagai sandaran, 

"Bicarakan tentang2 ciptaan2 Allah,  tentang tanda2 Allah, jangan bicarakan tentang DzatNya."

Because of this, there is a hadith that, although not authentic, but often used as a reference. It states: "Discuss the creations of Allah and His signs, but do not speak about His essence." 

 

تفكروا في خلق الله ولا تتفكروا في الله

 

Jadi tentang masalah akidah, kita tidak mungkin menjangkaunya. Dan menjangkaunya itu bukan dalam konteks ilmiah, tetapi secara akademik, kita juga tentu tidak bisa menjangkau itu. Saya pikir sekali lagi, kita sudah sepakati itu bahwa Allah tidak bisa dinalar, tidak bisa dipahami, dan tidak mungkin bisa dibayangkan. Semua gambaran dan bayangan kita tentang Allah Subhanahu wa ta'ala itu pasti adalah hayalan dan angan2 belaka saja. 

Makanya ketika ada debat ilmiah, apakah akidah itu bisa diilmiahkan dan lain sebagainya, ya saya bertanya tanya. Ya karena justru, yang jadi masalah diantara kaum muslimin itu adalah soal kenapa kaum muslimin tidak mengikuti perintah Allah terkait dengan yang dipelajari itu adalah terkait dengan ciptaanNya2 saja, bukan yang dipelajari itu Dzat Allah saja. Dzat Allah itu tidak mungkin bisa kita gapai, 


When it comes to matters of faith (aqidah), it is beyond our reach. "Understanding Allah" is not possible, either scientifically or academically. I believe we all agree on this: 

"Allah cannot be rationalized, fully understood, or imagined."

Any attempt to visualize or conceive of Allah, the Most Glorious and Exalted, is nothing but illusion and mere fantasy.

Therefore, when scientific debates arise — questioning whether faith can be subjected to scientific inquiry? — I find it perplexing. The real problem among Muslims, in my view, is the failure to adhere to Allah's command "to study His creations, rather than delving into His essence." The essence of Allah is something we can never comprehend.

Cuplikan Video bisa kalian saksikan di sini, temen2


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banjirnya Ilmu Pengetahuan | Catatan Guru Gembul

  Disklaimer Ini adalah transkrip dari youtube perbincangan Helmi Yahya dengan Guru Gembul. Jadi kalau mau melihat lebih lengkap, bisa langsung saja ke sumber perbincanganya.    Zaman Media . Sekarang itu zaman media. Jadi kalau misalnya (ada pertanyaan) Pengetahuanya darimana? Itu sebenarnya pertanyaan kurang relevan untuk zaman sekarang. Karena kita (untuk) mengetahui / akses untuk mendapatkan informasi itu banyak sekali kan? (Untuk Zaman) Sekarang pertanyaan yang paling utama BUKAN Darimana kalian mendapatkan Pengetahuan?  Tetapi darimana? (kita mengetahui bahwa) Pengetahuan itu BENAR, Pengetahuan itu bisa DIVERIFIKASI.   Kurasi menjadi penting?  kegiatan mengelola benda-benda dalam ekshibisi di museum atau galeri Iya itu penting. Kan kalau misalkan dalam metodologi ilmu itu, setelah kita mengumpulkan sebanyak mungkin sumber, kita mampu mengkritik sumber itu. Nah kita sekarang, di zaman digital, di zaman cyber, di zaman yang entah namanya apa ini? yang ...

Pendidikan Anak Sejak Dini - dr Ryu Hasan

Mental Aritmatika . Di tahun 90an akhir atau awal 2000an itu, ada les "mental aritmatika", anaknya dilesin semua. Lha Kamu itu pingin anakmu jadi kalkulator atau gimana sih?  Sehebat-hebatnya anak itu bisa ngitung, masih kalah cepet sama kalkulator penjual tahu. Lho ngapain? daripada gitu, ya bekali aja anakmu dengan kalkulator.  Terus ada lagi "super brain" anak diajari ngapalin. Lha kenapa sih? gak gitu lah. Memangnya anakmu jadi HPU? kan gak demikian kan? Anakmu jadi HPU, ibukota ini dimana, ini dimana?  lho ngapain? gitu lho, wong nanti kerjanya di bank, gak perlu ngafalin HPU, ngapain?  Raja Singosari pertama, lho gak penting. Gak penting banget gitu lho, Raja Singosari yang terkenal, ngapain? dihafalin? Nanti kerjanya di Bank, jadi teller Bank.  In the late 90s or early 2000s, there was mental arithmetic tutoring. Parents were flocking to enroll their kids. Do you really want your child to become a calculator or something? As quickly as the child can calc...

Nama - Nama Islami | Catatan Guru Gembul 255

    Nama itu tidak hanya menunjukkan cita2 orang tua, kepada anak2 yang diberinya nama. Tetapi nama itu adalah bagian dari unsur kebudayaan, yang bisa membuat kita meneropong, apa yang terjadi pada masyarakat itu. Apakah itu sintesis antar unsur2 kebudayaan, apakah bahkan mungkin agresi kebudayaan lain pada masyarakat setempat.     Joel C Kuipers Telah mengumpulkan 3.7juta nama dalam satu abad di Indonesia yang menjadi bukti adanya pergeseran nama JAWA merosot, tajam tergantikan nama2 arab, atau campuran ARAB   Sejak kemunculan pertama kalinya, masyarakat arab itu sudah menghadapi masalah yang sangat pelik. Yaitu mana yang merupakan budaya arab, dan mana yang merupakan nilai2 dasar islam. Pemisahan ini memang faktanya sulit untuk dilakukan, karena memang faktanya islam berkembang dan lahir di tradisi arab jahiliyah, pada waktu itu . Dan bagaimanapun ada unsur2 budaya arab yang bisa masuk ke nilai2 islam. Nah tetapi pemisahan antara nilai islam dan budaya ar...