Dimulai dari INDRA . Saya terharu dengan Pak Nuruddin yang sampai membaca, dan menonton banyak sekali podcast saya. Dalam keadaan saya belum pernah membaca satupun buku2 beliau. Tapi ya tidak apa2, bahkan saya tidak bawa power point, tidak bawa apa2 karena memang secara khusus saya meremehkan diskusi kali ini. Kenapa? bukan karena meremehkan Pak Nuruddin, tapi meremehkan KIERA. Tapi menarik perhatian buat saya adalah berkali kali Pak Nuruddin mengatakan bahwa saya mengatakan yang dimaksud dengan ilmiah itu hanya empiris saja, hanya terindra saja. Saya (Demi Alloh) saya tidak pernah mengatakan yang seperti itu. Saya hanya mengatakan bahwa studi ilmiah itu dimulai dari konfirmasi Indrawi, "dimulai dari" bukan secara keseluruhan. Jadi kalau misalkan sesuatu, belum dikonfirmasi secara indrawi, maka rasional menjadi sulit untuk bisa dicapai. Great Respect for Mr. Nuruddin, who has gone so far, reading and watching many of my podcasts, Even though I haven’t read a single one of...
Mental Aritmatika . Di tahun 90an akhir atau awal 2000an itu, ada les "mental aritmatika", anaknya dilesin semua. Lha Kamu itu pingin anakmu jadi kalkulator atau gimana sih? Sehebat-hebatnya anak itu bisa ngitung, masih kalah cepet sama kalkulator penjual tahu. Lho ngapain? daripada gitu, ya bekali aja anakmu dengan kalkulator. Terus ada lagi "super brain" anak diajari ngapalin. Lha kenapa sih? gak gitu lah. Memangnya anakmu jadi HPU? kan gak demikian kan? Anakmu jadi HPU, ibukota ini dimana, ini dimana? lho ngapain? gitu lho, wong nanti kerjanya di bank, gak perlu ngafalin HPU, ngapain? Raja Singosari pertama, lho gak penting. Gak penting banget gitu lho, Raja Singosari yang terkenal, ngapain? dihafalin? Nanti kerjanya di Bank, jadi teller Bank. In the late 90s or early 2000s, there was mental arithmetic tutoring. Parents were flocking to enroll their kids. Do you really want your child to become a calculator or something? As quickly as the child can calc...