Langsung ke konten utama

Kebenaran itu tidak memihak - Catatan Guru Gembul 610

 

Assalamualaikum Baraya, Selamat datang kembali di guru GEMBUL channel

 

  • Apakah ijazah Pak Jokowi itu asli atau tidak?hasil nembak atau tidak? 
  • Apakah Pak Habib Bahar bin Smith itu adalah zuriyah nabi yang sebenarnya atau tidak 
  • Apakah yang hampir disembelih oleh Nabi Ibrahim atau Abraham itu adalah Ismail atau Ishaq? Ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang semacam itu 

  • Apakah alien itu ada atau tidak.
  • Apakah Baraya itu benar-benar hidup atau hidup di alam simulasi dan sebagainya.


Nah tentu saja baraya mendapatkan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan itu. Dan banyak diantara pertanyaan-pertanyaan itu yang cukup membingungkan atau membuat baraya tidak yakin Apakah jawaban yang sesungguhnya itu. Nah di episode ini kita akan sama-sama berusaha untuk menjawab, tetapi saya enggak akan kasih jawabannya apa Saya hanya akan membantu Baraya untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang aneh itu

Simak videonya.... Yuk kita mulai 



Kebenaran itu Independen
.

Satu dari dua hal yang paling susah saya jelaskan di channel ini itu adalah bahwa kebenaran itu independen,

  • kebenaran itu tidak berpihak 
  • Kebenaran kadang-kadang ada di satu pihak kadang-kadang ada di pihak yang lain. 
  • Kadang-kadang bersengketa dengan satu kelompok 
  • dan kadang-kadang dia menyatu dengan kelompok yang dimaksud 

Itulah yang namanya kebenaran. Nah karena kebenaran itu tidak berpihak maka sebenarnya kita juga tidak mungkin bisa menemukan satu pihak yang selamanya benar, dan satu pihak yang selamanya salah. Itu gak mungkin kejadiannya seperti itu. Nah tetapi pernyataan saya ini begitu susahnya untuk dipahami oleh orang lain padahal kan Gampang itu sebenarnya. Tapi susah dipahami oleh orang lain karena memang orang itu biasanya memahami kebenaran itu berdasarkan dengan emosi, berdasarkan dengan tendensi yang dia inginkan. 


Raja Lalim dari Jawa
.

Sebagai contoh yang kemarin, saya bikin video judulnya adalah 

tentang seorang raja yang sangat lalim dari Jawa 

Seharusnya itu adalah hal yang lumrah. Seharusnya itu adalah hal yang biasa-biasa aja di masa lampau raja jahat Raja bengis itu memang sudah terbiasa. 

Pemerintahan Amangkurat 1 disebut dalam serat jaya baya sebagai Kalpa Sru Semune kenaka putung yang secara maknawi berarti. Zaman kekejaman yang dipenuhi pembunuhan pada para panglima. 

Dan saya juga sudah memberikan penjelasan disclaimer bahwa raja-raja semacam itu di masa lampau adalah hal yang biasa. Tapi kemudian ada orang-orang yang menyanggahnya dan sanggahan itu gak jadi masalah. Sampai dia kemudian mengajukan referensi bahwa sanggahannya itu adalah bahwa saya menggunakan referensi Belanda dan karena itu maka salah. Nah itu poin masalahnya itu di situ Baraya


Kebenaran itu tidak memihak
.

Kan saya katakan bahwa kebenaran itu tidak memihak. Jadi maksudnya kalau baraya tidak setuju dengan pernyataan saya itu enggak jadi masalah. Tapi kalau baraya tidak setuju dengan pernyataan saya hanya gara-gara sumbernya 

  • dari suku tertentu 
  • ras tertentu 
  • agama tertentu 

maka itu baraya yang salah. Walaupun pernyataan baraya itu benar. Jadi misalkan ada saya menjelaskan tentang Turki Usmani. Oh itu sumbernya dari barat semua itu fasis, baraya. Pernyataan itu adalah pernyataan yang FASIS kan kebenaran itu tidak terikat pada suku bangsa gitu. 


Tentang Benar dan Salah
.

Atau misalkan kemarin saya bikin video tentang Suku Batak kemudian ada yang menyatakan bahwa tidak mungkin ada orang yang lebih tahu tentang Batak kecuali orang Batak sendiri. Itu kan ngaco baraya,, sumber-sumber yang terpercaya tentang orang Batak justru adalah dari penulis-penulis yang nonBatak. 

Atau misalkan kita juga pernah bahas tentang sejarah Bali. Kemudian Jangan sekali-kali bahas BALI. karena hanya kamilah yang tahu tentang Bali orang Bali dan sebagainya. Itu itu fasis dalam pengetahuan Baraya.
Maksudnya Ya tentu 
saja kita tidak mungkin bisa menjudge mana yang benar dan mana yang salah hanya gara-gara seseorang yang mengatakan itu berasal dari suku tertentu atau agama tertentu atau kelompok tertentu. Kan nggak bisa seperti itu? Tapi pada faktanya kebanyakan dari kita memang berpikir dengan cara seperti itu.



Tendensi
.


T
api kan suku bangsa tertentu, agama tertentu itu pasti memiliki kecenderungan. Ya tentu saja memiliki kecenderungan. Tidak ada seorang pun yang bisa melepaskan diri 

  • dari kecenderungan 
  • dari tendensi 
  • dari keinginan 
  • dari hal-hal yang semacam itu

tidak mungkin ada, dan kita memang harus akui itu.

Mungkin ada kebenaran objektif di luar sana, yng secara objektif tidak bisa manusia jangkau. Tetapi itu tidak mengubah fakta yang dikumpulkan oleh sains, bahwa hal yang sudah pasti terjadi adalah terjadi

The Impossiblility of Objectivity
The University Of Texas at Dallas

Tetapi bukan itu, mari kita analisis sedikit demi sedikit untuk kita masuk ke dalam ranah yang lebih intelektual gitu. 



Tiga level kesalahan
.

Ada tiga level orang yang ketika menerima sebuah informasi dia percaya dan 3 level ini adalah 3 level kesalahan. Jadi semuanya tiga-tiganya itu SALAH.


Level Pertama

.

Level yang  pertama itu adalah 
orang mendapatkan satu pengetahuan 

  • Satu Berita 
  • Satu informasi 
  • satu bukti 

dan dia langsung percaya apa adanya, 

  • tanpa melakukan verifikasi 
  • tanpa melakukan penelitian 
  • tanpa melakukan riset 
  • tanpa tanya kepada pihak yang berseberangan 
  • dan sebagainya 

dia langsung percaya.

Nah tapi ini adalah level terburuk tapi di Indonesia banyak sekali orang-orang yang seperti ini. Mungkin salah satu yang paling banyak. 


Jadi misalkan ada salah seorang pendeta di Indonesia jamaahnya banyak, hanya gara2 dia mengaku bahwa dirinya adalah yang membunuh saibaba. Jadi dulu di India itu ada orang yang kesaktiannya itu sama dengan saya sepadan dengan saya, dia katakan begitu. Itu namanya saibaba, Saibaba itu mau menyantet SBY nah tapi saya balikan sampai dianya meninggal gitu.
S
eandainya pernyataan itu sampai ke orang-orang India atau ada di tengah-tengah India disampaikannya itu Pak Daud Toni itu saya yakin dibakar hidup-hidup. Ya tapi terserahlah itu kan pak Daud Toni berhak untuk mengatakan seperti itu berhak mengklaim apapun sama seperti Semua orang berhak mengklaim apapun. Yang jadi masalah adalah Kenapa ada orang yang percaya pada pernyataan sepihak seperti. Kan begitu ya? 


Dan banyak di Indonesia 
yang tiba-tiba langsung percaya ketika ada orang yang mengatakan bahwa saya ini adalah Begini saya adalah begitu. Tiba-tiba orang banyak yang percaya dengan pernyataan seperti itu. Itulah alasan kenapa dukun2 di Indonesia itu punya job yang selalu banyak. Karena mereka mudah sekali untuk menyampaikan satu klaim dan kemudian dipercaya sama pihak lain. Sekali lagi, saya enggak ada  masalah sama pada Pak Daud Toni nya, Saya bermasalah kepada orang2 yang  kenapa? percaya pada klaim-klaim sepihak, seperti itu. Tapi kan ada buktinya ...., Halah Enggak ada enggak ada buktinya. Itu yang pertama. Ya itu klasifikasi orang yang paling rendah dalam bernalar, atau dalam menerima informasi.


Level Kedua
.

Kemudian level yang kedua itu adalah orang yang percaya pada sesuatu karena sesuatu itu membuat dirinya nyaman, atau  membuat dirinya enak gitu. 

The Psychology of Fake News
Gordon Pennycook, David G. Rand

Dulu saya ketemu dengan seseorang, kemudian kita diskusi panjang lebar gitu ya. Terus awalnya kita berseberangan, awalnya kita beda pendapat, tapi pada akhirnya dia mengatakan Nah kalau itu saya sepakat, itu Saya suka itu, Saya suka pendapat itu karena itu itu pernyataannya cocok buat saya gitu.


Atau di kolom komentar banyak sekali pernyataan2 yang mengatakan misalkan
Anda ini jenius luar biasa, kok pendapatnya sama dengan saya

Ini kesalahan berpikir bayar itu cacat logika cacat logika gitu. Jadi maksudnya benar dan salah itu disesuaikan dengan selera. Kalau misalkan menurut saya senang atau membuat saya senang atau menurut saya itu enak didengar dan sebagainya maka itu pernyataan yang benar. Kalau ada sebuah bukti 

  • ada pernyataan, 
  • ada klaim 
  • ada hipotesis 
  • ada teori 

yang mengatakan bahwa Begini Begitu -yang itu tidak membuat kita nyaman maka kita langsung sangkal dan sebagainya. Nah ini kan sebenarnya cacat berpikir tapi banyak juga masyarakat di kita yang ketika mendapatkan sebuah informasi dia cocokkan dengan emosinya. Dia Cocokan apakah ini nyaman dengan saya atau tidak. Apakah ini enak buat saya atau tidak. Nah maka penerimaan atau penolakannya itu tergantung pada kenyamanan atau tidak dari klaim dan informasi yang ada. Tapi juga kan? salah kan?  itu kelompok level manusia yang kedua. Baraya ikutan level pertama atau ikutan level kedua. Tapi itu sama-sama salah, Baraya.


Level Ketiga
.

Dan ada yang ketiga yaitu ada orang yang menerima informasi kemudian dia langsung percaya kalau pernyataan itu dari kelompoknya. Jadi (misalkan)

  • ada kelompok Salafi 
  • ada kelompok Nu 
  • ada kelompok nasionalis 
  • ada kelompok komunis 
  • ada kelompok ini ini ini

Nah mereka hanya mau mendengar sebuah pernyataan, dan pernyataan itu langsung dianggap benar kalau itu sesuai dengan kelompoknya, atau pernyataan kelompoknya. 

Echo Chamber adalah lingkungan dimana seseorang hanya menemukan informasi atau pendapat yang mencerminkan dan memperkuat pendapat mereka sendiri. Ini membuat mereka kesulitan mempertimbangkan sudut pandang yang lain. Disana mereka memilih info yang memperkuat keyakinan yang ada.

What is an Echo Chamber
Edu.gcfglobal.org


Berkelompok

.

Dan kalau misalkan ada yang menyerang kelompoknya, maka dia langsung buru-buru cari referensi, Cari informasi hanya dari kelompoknya saja untuk bisa menyangkal kelompok pihak lain, gitu. Jadi semua pernyataan pihak lain harus diverifikasi sesuai dengan pernyataan dari kelompoknya. Kalau pernyataan dari kelompoknya membenarkan, berarti diterima kalau salah berarti ya salah saja seperti itu. Nah ini juga sebenarnya menunjukkan bahwa orang yang dimaksud itu menganggap bahwa kebenaran itu berpihak.

Ya tentu saja kebenaran itu 
tidak berpihak, dalam artian setiap pihak kadang benar kadang salah kan begitu. 

Tapi kenapa ada orang-orang yang berpikir dengan cara seperti itu? yang menerima informasi dengan cara seperti itu? 

Ya karena nyaman karena enak walaupun salah itu nyaman dan enak. 

Baraya kalau misalkan ada dalam sebuah kelompok, kemudian baraya beda sendiri dengan kelompok itu, baraya ngerasa nggak nyaman kan? Maka dari itu butuh orang2 yang super berani untuk bisa berbeda dengan orang yang ada di kelompoknya. Maka wajar yang tadi itu yang level pertama bahwa orang langsung percaya. Orang yang level kedua percaya kalau sesuai dengan hasratnya, kemudian yang ketiga percaya kalau misalkan informatika sesuai dengan kelompoknya. Nah itu langsung dipercaya karena nyaman. 

Tapi itu semua adalah cara yang salah untuk bisa menemukan kebenaran itu. Cara yang salah untuk bisa memverifikasi mana yang benar dan mana yang salah.


Skeptis

.
Jadi bagaimana caranya untuk 
menemukan sebuah berita apakah ini benar atau salah? Bagaimana caranya? nah ini saya kasih tahu baraya. Saya memperkenalkan kepada Baraya metodologi ilmu yang biasa saya gunakan untuk menyaring, Apakah sebuah berita ini benar atau salah. Silahkan ikuti kalau mau, kalau enggak juga enggak apa-apa. Jadi kalau menerima sebuah informasi yang pertama saya lakukan itu adalah skeptis. Says kosongkan dulu pikiran saya, maksudnya 

  • keinginan2 saya, 
  • Kelompok mana, 
  • Kubu-kubuan, 
  • dan sebagainya, 

Saya hilangkan dulu. 

Kemudian saya gantikan dengan skeptis. Bahwa segala sesuatu layak ditolak kalau dia tidak bisa menunjukkan buktinya. Atau dia tidak bisa mendemonstrasikan kebenarannya, begitu. Jadi saya skeptis dulu itu yang pertama. 

Jadi ketika saya mendapatkan informasi, saya lihat dulu sebagai orang yang curigaan itu yang pertama. 


Rasional

.

Kemudian setelah itu saya selidiki secara rasional, Apakah bukti apakah pernyataan itu? atau bukti itu atau sumber itu rasional atau tidak? 



Empiris

.

Kemudian yang ketiga Apakah dia empiris atau tidak. Nah kalau misalkan sudah skeptis kemudian rasional kemudian empiris maka masuk level berikutnya masuk ke dalam metodologi ilmu, yaitu apa saya kumpulkan sebanyak-banyaknya sumber yang berhubungan dengan informasi yang saya dapatkan tadi, mau yang pro mau yang kontra.


Misalkan ada sebuah pernyataan Apakah Nikola Tesla itu dikhianati oleh Thomas Alva Edison atau tidak? sekumpulkan sumbernya sebanyak-banyaknya 

  • mau yang pro maupun yang kontra, 
  • mau yang tendensius maupun yang tidak, 
  • mau dia menggunakan pendekatan science pendekatan sosiologis pendekatan dengan ideologi, 
  • dan sebagainya 


Saya kumpulkan sebanyak-banyaknya, kemudian saya baca semuanya. Setelah saya baca semuanya. Saya lakukan apa? verifikasi2 itu adalah kritik sumber. Jadi saya mengkritik 

  • sumber memverifikasi bahwa sumber ini otentik tapi tidak valid misalkan 
  • atau masuk akal tetapi tidak empiris 
  • atau begini-begini security semuanya 
  • dan eksternal semua sumber-sumber itu


Nah setelah sumber-sumber itu selesai saya kritik semua, saya interpretasikan. Saya jadikan itu sebuah sintesis. saya kumpulkan jadi satu kesatuan sebuah kesimpulan bahwa ternyata Edison memang mata duitan. Tetapi dia tidak jahat pada Nikola Tesla. Misalkan pernyataannya adalah seperti itu.

Jadi dari semua informasi itu akhirnya saya temukan begitu. Nah setelah saya selesai dengan kesimpulan itu apakah kesimpulan itu bisa berubah? Ya tentu saja bisa berubah. Saya tetap buka kemungkinan selebar-lebarnya bahwa Kesimpulan saya itu salah. Kan bisa aja setelah saya mendapatkan informasi lain, informasi tambahan, maka saya berubah pikiran kan bisa saja. Dan itu adalah hal yang lumrah. Dan Karena itu adalah adalah hal yang lumrah maka saya tidak mungkin bisa mengklaim kebenaran. Saya hanya mengatakan bahwa informasi yang saya dapatkan kemudian saya olah saya verifikasi kemudian saya interpretasikan hasilnya adalah seperti ini. Dan itu bisa saya pertanggungjawabkan, tetapi setelah itu saya masih membuka kemungkinan bahwa itu adalah sesuatu yang keliru, atau sesuatu yang salah, begitu. Nah itu standarnya itu dasarnya. 

Jadi kalau misalkan mendapat informasi, Saya tidak langsung percaya, atau tidak tapi melalui langkah-langkah yang seperti itu dulu apakah bahaya mau ikut atau tidak, ya terserah. Tapi ini pun sebenarnya baru standar yang saya sebutkan tadi kalau misalkan kita mau lebih dalam, lagi lebih masuk lagi. Misalkan saat kita mengumpulkan data atau mengumpulkan bukti2 itu juga kan harusnya dipecah-pecah lagi. 

Setidaknya ada 4 pendekatan bukti atau empat metode kita dalam melihat bukti2 epistek bukti subjektif bukti veridical dan bukti potensial semua itu kita kumpulkan satu-satu itu 

Misalkan pas tadi yaristik mengumpulkan sumber sebanyak-banyaknya. Nah kalau misalkan sudah seperti itu diapain misalkan kemudian kita masuk ke tahapan verifikasi atau mengkritik sumber kritik sumber itu kan ada internal dan ada eksternal kita lihat latar belakang orangnya kita lihat bagaimana penyajiannya kita lihat tahun terbitnya dan sebagainya baru kemudian kita ambil kesimpulan apakah ini otentik atau tidak valid atau tidak sesuai dengan sejarah atau tidak terkonfirmasi atau tidak dan sebagainya jadi misalkan ketika sebuah sumber itu bentuknya adalah naskah kuno 

Apakah kita mau menelitinya sebagai menggunakan pendekatan epigrafi atau  filologi dan sebagainya kemudian ketika ada sebuah kertas jadi naskahnya di atas kertas. Kita juga harus lihat apakah kertasnya Tahun berapa dan sebagainya kalau terbuat dari Prasasti atau batu Kita juga harus berhubungan dengan ilmu geologi dan sebagainya jadi untuk bisa memverifikasi sebuah sumber Apakah valid atau tidak itu kita harus jeli dalam hal itu Dan karena itulah maka biasanya interpretasi interpretasi yang ilmiah itu itu bisa memakan waktu sampai 30 tahun 40 tahun untuk bisa bahwa ini sebenarnya benar atau salah gitu makanya ketika ada orang-orang yang kemudian pernyataan anda itu salah karena buktinya saya menemukan video di sini saya tuh kadang-kadang kesel gitu ketika misalkan Saya menyampaikan sebuah pernyataan kemudian itu didasarkan pada sebuah buku atau sebuah jurnal Kemudian dibantah oleh sebuah pernyataan bahwa ini kan ada videonya yang menyangga Ya sudahlah tapi ngapain juga hal-hal yang seperti ini terjadi gitu tapi ya karena kebanyakan orang itu sekali lagi kebanyakan orang itu senang dengan sebuah pendapat yang menyenangkan dirinya dan dia akan memilih pendapat yang menyenangkan dirinya mau bener mau salah itu urusan yang lain karena untuk bisa menemukan benda dan salah itu  erifikasinya susah mengumpulkan sumbernya susah menginterpretasikannya butuh kejelian dan butuh kecerdasan dan sebagainya maka orang menghindari itu semua Kemudian memilih jawaban yang paling menyenangkan dirinya saja makanya dalam konteks ini saya sebenarnya bisa berbangga hati kan kemarin saya ketemu sama Pak Helmi ya kan kemudian Pak hilmia Yang ngobrol tentang Segitiga Bermuda yang sudah di-upload juga kan saya sampaikan bahwa Segitiga Bermuda itu Saya tunjukkan ukti-buktinya ada sesuatu yang sangat misterius ada sesuatu yang tidak jelas ada yang sampai sekarang tidak terungkap oleh sains oleh ilmuwan dan sebagainya bla bla bla saya baca puluhan buku soal Segitiga Bermuda tapi saya katakan kepada Pak Helmi Saya tidak percaya bahwa di situ ada sesuatu yang misterius Pak Helmi nanya lah kenapa tidak percaya dengan sesuatu yang sangat misterius padahal data-data semuanya sudah menunjukkan hal yang seperti itu ya Karena untuk menjadi percaya bagi saya itu sangat-sangat mahal karena menggunakan metodologi yang itu jadi agar saya bisa percaya pada satu klaim itu mahal banget makanya kalau misalkan mereka saya menyatakan seperti ini itu mahal banget Baraya sware itu mahal banget karena memang penyelidikannya susah Nah tapi kan itu menjadi sangat ribet Bagaimana ceritanya kalau misalkan hanya untuk bisa memeriksa sebuah klaim kebenaran itu kita harus ikuti atau tidak kemudian kita harus melakukan metodologi yang sangat panjang itu ya idealnya seperti itu tetapi kalau misalkan Baraya tidak memungkinkan untuk seperti itu karena memang ada keterbatasan di banyak hal teknis dan non teknis maka saya sarankan barayap pertama untuk mencari orang-orang yang memiliki otoritas biasanya yang otoritatif dalam sains dalam ilmu itu adalah jurnal ilmiah karena jurnal ilmiah itu ditulis pasti melalui penelitian yang tadi tadi disebutkan itu Nah pasti jurnal ilmiahnya yang seperti itu itu hasilnya tapi nggak tahu kalau jurnal ilmiah yang ada di Indonesia tapi biasanya kalau jurnal ilmiah sudah seperti itu dan biasanya jurnal ilmiah itu sudah dinaungi oleh satu lembaga akademik itu yang menjamin keabsahan atau yang menjamin bahwa karya tulis itu sudah mengikuti metodologi atau prosedur ilmiah yang sudah diketahui yang sudah baku yang sudah protokoler gitulah itu yang pertama jadi Carilah sumber yang otoritatif kemudian yang kedua setidaknya barangnya belajarlah untuk skeptis dan kritis jadi setiap menerima ada setiap ada sebuah informasi jangan langsung ditelan jangan langsung percaya coba sedikit mas selidiki gitu atau ketika ada sebuah informasi jangan diserap hanya gara-gara barangnya menyukai itu karena bisa aja kebenaran itu tidak sesuai dengan apa yang Baraya suka kan begitu ya lumrah ya jadi skeptis dan kritis biasakan kemudian yang ketiga adalah perbaiki mental Baraya karena sebagian besar orang itu sebenarnya cerdas dalam menelisik Apakah sebuah bukti ini benar atau salah bahwa informasi ini masuk akal atau tidak Sebenarnya dia cukup cerdas yang akhirnya mengalihkan perhatiannya itu adalah mentalnya mental penakut misalkan jadi mengubah Oh saya percaya ini saya tidak percaya ini untuk menenangkan dirinya tadi untuk menyenangkan hatinya itu atau misalkan ketika ada sebuah berita 

Wah Sumber berita ini berasal dari orang kafir ya ini pasti tidak Nah kalau misalkan mentalnya masih seperti itu maka dia masih akan sangat sulit untuk menerima kebenaran gitu karena kebenaran itu sekali lagi dia tidak berpihak dia bisa ada di manapun dan benar dan salahnya tidak tergantung pada siapa yang menyampaikannya karena itu biasakanlah untuk skeptis biasakan untuk kritis biasakan menggunakan metodologi ilmu seperti yang saya sampaikan tadi tapi kalau misalkan Baraya tidak mau ya tidak apa-apa sah-sah saja boleh-boleh saja toh Sebagian besar orang juga melakukan hal yang sama cuman kalau barangnya masih ada di level 1 2 3 ya kesalahan-kesalahan berpikir tadi kesalahan dalam mengambil informasi tadi tolong jangan ngajak debat orang lain Soalnya kalau misalkan ngajak debat orang lain itu hasilnya jadi debat Kusir Kusir aja nggak pernah debat Terima kasih karena sudah menyimak saya guru Gembul Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banjirnya Ilmu Pengetahuan | Catatan Guru Gembul

  Disklaimer Ini adalah transkrip dari youtube perbincangan Helmi Yahya dengan Guru Gembul. Jadi kalau mau melihat lebih lengkap, bisa langsung saja ke sumber perbincanganya.    Zaman Media . Sekarang itu zaman media. Jadi kalau misalnya (ada pertanyaan) Pengetahuanya darimana? Itu sebenarnya pertanyaan kurang relevan untuk zaman sekarang. Karena kita (untuk) mengetahui / akses untuk mendapatkan informasi itu banyak sekali kan? (Untuk Zaman) Sekarang pertanyaan yang paling utama BUKAN Darimana kalian mendapatkan Pengetahuan?  Tetapi darimana? (kita mengetahui bahwa) Pengetahuan itu BENAR, Pengetahuan itu bisa DIVERIFIKASI.   Kurasi menjadi penting?  kegiatan mengelola benda-benda dalam ekshibisi di museum atau galeri Iya itu penting. Kan kalau misalkan dalam metodologi ilmu itu, setelah kita mengumpulkan sebanyak mungkin sumber, kita mampu mengkritik sumber itu. Nah kita sekarang, di zaman digital, di zaman cyber, di zaman yang entah namanya apa ini? yang ...

Pendidikan Anak Sejak Dini - dr Ryu Hasan

Mental Aritmatika . Di tahun 90an akhir atau awal 2000an itu, ada les "mental aritmatika", anaknya dilesin semua. Lha Kamu itu pingin anakmu jadi kalkulator atau gimana sih?  Sehebat-hebatnya anak itu bisa ngitung, masih kalah cepet sama kalkulator penjual tahu. Lho ngapain? daripada gitu, ya bekali aja anakmu dengan kalkulator.  Terus ada lagi "super brain" anak diajari ngapalin. Lha kenapa sih? gak gitu lah. Memangnya anakmu jadi HPU? kan gak demikian kan? Anakmu jadi HPU, ibukota ini dimana, ini dimana?  lho ngapain? gitu lho, wong nanti kerjanya di bank, gak perlu ngafalin HPU, ngapain?  Raja Singosari pertama, lho gak penting. Gak penting banget gitu lho, Raja Singosari yang terkenal, ngapain? dihafalin? Nanti kerjanya di Bank, jadi teller Bank.  In the late 90s or early 2000s, there was mental arithmetic tutoring. Parents were flocking to enroll their kids. Do you really want your child to become a calculator or something? As quickly as the child can calc...

Nama - Nama Islami | Catatan Guru Gembul 255

    Nama itu tidak hanya menunjukkan cita2 orang tua, kepada anak2 yang diberinya nama. Tetapi nama itu adalah bagian dari unsur kebudayaan, yang bisa membuat kita meneropong, apa yang terjadi pada masyarakat itu. Apakah itu sintesis antar unsur2 kebudayaan, apakah bahkan mungkin agresi kebudayaan lain pada masyarakat setempat.     Joel C Kuipers Telah mengumpulkan 3.7juta nama dalam satu abad di Indonesia yang menjadi bukti adanya pergeseran nama JAWA merosot, tajam tergantikan nama2 arab, atau campuran ARAB   Sejak kemunculan pertama kalinya, masyarakat arab itu sudah menghadapi masalah yang sangat pelik. Yaitu mana yang merupakan budaya arab, dan mana yang merupakan nilai2 dasar islam. Pemisahan ini memang faktanya sulit untuk dilakukan, karena memang faktanya islam berkembang dan lahir di tradisi arab jahiliyah, pada waktu itu . Dan bagaimanapun ada unsur2 budaya arab yang bisa masuk ke nilai2 islam. Nah tetapi pemisahan antara nilai islam dan budaya ar...