Langsung ke konten utama

SPIRITUALITAS | Catatan Guru Gembul

 

Intinya mah, saya punya keresahan, jadi dunia itu punya banyak sekali masalah. Dalam tanda kutip yang saya fahami ini adalah akhir zaman, dan terlalu banyak fitnah. Saya mencoba untuk menjadi bagian dari solusi. Menjadi bagian dari pasukan yang berhadapan dengan fitnah itu. Jadi keresahan saya itu ditumpahkan di Youtube. Detail2 kecilnya itu sudah banyak diterangkan, tetapi intinya seperti itu. 

 

Tentang Pengetahuan
.

Dalam hal apapun, secara teknis, pengetahuan saya itu terbatas. Jadi misal, apa yang saya tahu itu sebenarnya tidak semua terkonfirmasi. Pengetahuan itu sebenarnya adanya informasi di dalam benak, yang terkonfirmasi secara inderawi. Itu pengetahuan... Jadi kalau saya mengatakan bahwa misal, ada 200 bintang di dalam galaxi bimasakti,  maka itu lebih kepada kepercayaan daripada pengetahuan. Jadi sebenarnya pengetahuan yang saya punya, yang kita punya itu sangat2 TERBATAS. Yang kita miliki sekarang itu adalah akses terhadap ilmu pengetahuan dan kepercayaan itu dan keyakinan itu. 

 

Sebenarnya pengatahuan tentang ruh, atau pengetahuan tentang yang lain, kita itu tidak diberikan banyak. Apa yang kita klaim sebagai pengetahuan, itu mungkin saja itu bukan pengetahuan, mungkin saja itu adalah sebuah kepercayaan. Dan bahkan.. kalau misalkan kita mau masuk ke ranah yang lebih skeptis, kita kan tidak yakin, apakah kita itu bener2 disini kan? Para Ulama fisikawan itu kan sekarang bersebarangan apakah materi itu nyata, real, objectif, apakah itu subjectif. Saya memandang alam semesta ini sebenarnya berbeda dengan baraya memandang alam semesta ini.  Apa yang saya lihat, apa yang baraya lihat, bukan apa yang saya lihat sebenarnya. Cuman kita memunculkan kesepakatan2 terhadap nilai2 yang lebih general, gitu. Pengetahuan kita yang paling fundamental, pengetahuan bahwa kita ada disini, itupun sebenarnya diragukan... apa bener? kita ada disini???

 

Alam Materil
.

Jadi di dunia fisika itu, ada perdebatan hebat antara neirbourgh dengan einstein. Yang berbicara kemudian apakah partikel itu ghaib? atau bukan ghaib ( atau subjectif). Ataukah itu sekedar materi, atau sekadar gelombang2 dari energi. Itu kan sampai detik ini, para fisikawan belum bersepakat untuk itu. JADI ilmu yang paling pasti pun, memberikan kepada kita ketidakpastian, apalagi pengetahuan2 yang ada di bawah garis kepastian. Jadi jangan sombong dengan banyaknya ilmu pengetahuan, kan jangan2 banyaknya ilmu pengetahuan itu salah semua. Kan kita gak ada yang tahu. 

Ada agama, ada religi, ada spiritual, ada magic, itu adik kakak, dalam artian kita sama2 menggunakan kata itu untuk secara tumpang tindih mendefinisikan kata yang lain. Jadi misalkan religi itu misalnya kan ada aturan2 yang seperti itu. Secara harfiah religi itu berarti seperangkat sistem, tentang ritual, tentang spiritual. Jadi tentang kepercayaan yang memiliki ritual dan spiritual. Nah ritual itu adalah hal2 yang materi, hal2 yang dogmatic dan hal2 yang semacam itu. Jadi kalau ada penekanan, ini gak boleh, itu gak boleh.. karakteristik dari religi itu memang seperti itu. Nah karakter dari spiritual itu berbeda dengan itu. Karakter dari spiritual itu kebalikan dari materil. Hawa nafsu itu adalah kesadaran kita yang terkontaminasi oleh alam2 yang bersifat materil. Nah kemudian jiwa2 yang sepenuhnya spiritual itu terikat oleh alam materi, dan kemudian dia takut untuk menjadi alam im materil. Ini juga pernah disinggung oleh SUrawardi, pendiri sekte Illuminati di dunia islam. Jadi Surawardi itu adalah salah seorang komentator dan pengkritik keras Ibnu Sina. Yang kemudian dia katakan bahwa filsafat itu kemudian harus diarahkan kepada hal2 yang lebih spiritual. Nah inilah yang menjelaskan bahwa manusia itu pada hakikatnya, sangat ingin, sangat mencintai hal2 yang spiritual, pada hal2 yang lepas dari dunia. Pada materi yang seperti ini... tetapi ketika dia sudah disitu, dia jadi nyandu dengan alam materi itu. 

 

Misalkan ada orang yang nyandu pada video p... Dia itu alam hatinya itu berontak pingin lepas, tetapi secara materil dia gak bisa untuk itu. Jiwa manusia itu merindukan kepada keabadian, dimana dia tidak terikat dengan alam materil.  Nah Surawardi itu menceritakan tentang hikayat semut kalau gak salah. Tapi dia isi dari itu kurang lebih adalah JIWA MANUSIA itu merindukan keabadian, dunia2 spiritual, dimana dia tidak lagi terikat kepada alam2 materil. Nah sekarang generasi milenial, yang sekarang sudah mendapatkan alam materil yang lebih besar. Sebenarnya kita itu mendambakan kita yang lepas dari semua yang alam materil. Tetapi kita tidak bisa disitu. Ngomongin sekarang, anak milenial yang mendapatkan informasi lebih, yang mendapatkan akses pengetahuan lebih, yang bisa ngaji kepada siapa pun, sebenarnya (bisa) terjebak kepada spiritual2 yang PALSU. Saya itu kemarin baca buku yang orang buda itu, SPIRITUAL BYPASS, jadi maksudnya kebanyakan orang2 milenial zaman sekarang atau yang dia lihat, yang penulis itu lihat, bahwa orang2 yang mengaku spiritual itu pada dasarnya gak ngerti tentang spiritual. Dia cuma mencari pembenaran, dia cuma mencari pelarian dari alam materi yang telah menyakitinya. Makanya biasanya alam2 spiritual biasanya dimasuki oleh orang2 yang stres, yang tertekan karena dunia. SEBENARNYA manusia itu memiliki kemampuan spiritual yang kuat, tetapi karena SPIRITUAL itu tidak bisa ditakar, tidak bisa diukur, maka banyak sekali orang2 yang memahami dia masuk alam spiritual, padahal dia sebenarnya sama sekali tidak masuk disitu. 


Radikalisme
.

Islam itu secara hakikat gak mungkin bisa radikal, dan gak boleh. Karena gagasan islam, atau esensinya itu tidak memungkinkan orang yang memeluknya itu menjadi RADIKAL. Soalnya sejak awal, ini sudah disebutkan sebagai agama tengah2. Wasathiyah. Dan ada banyak sekali dalil yang melarang kita untuk  bersikap ghulu, atau radikal/ berlebihan atau lebaai. Atau yang semacam itu, itu gak boleh seperti itu. Bahkan Nabi menentang  yang seperti itu.  Nah tetapi, kenapa banyak orang2 yang disebut sebagai radikal. Ya itu karena agama itu harus bergabung (dengan) yang namanya budaya atau tradisi.  Agama itu bahasa TUHAN. Bahasa Tuhan itu tidak bisa kita fahami, kecuali dua kemungkinan. Kita yang masuk alam ketuhanan, sehingga kita memahami bahasa Tuhan. Kemungkinan pertama. Kemungkinan kedua adalah, bahasa TUHAN kita translasikan ke dalam bahasa kita. Maka bahasa TUHAN yang kita sebut dengan agama itu, bercampur dengan BUDAYA. Karena dengan cara itulah kita bisa memahaminya, kalau gak bisa... kita yang manusia, dan Tuhan sebagai Tuhan, gak mungkin punya jembatanya. Nah jembatan ini, kalau misalkan dalam gagasan2 nya al farabi, atau plotinus, PLATO dan sebagainya... Jembatan itu ada di dalam semesta. Kalau misalkan di dalam pikiranya ibnul arobi, Jembatan itu bisa dibuat, kalau kedua belah pihak melakukan gerakan bersama2 dan berkesinambungan. Jadi Allohnya turun ke muka bumi, dan manusianya naik ke langit ke tujuh. Atau ke Akal Faal \yang terjemahanya ibnu sina itu. KALAU misalkan seperti itu, saling bertemu bisa kita saling memahami. TETAPI secara umum bahasa TUHAN tidak bisa dipahami oleh manusia, kecuali melalui budaya. 

 

IDEOLOGI
.

NAH...banyak orang yang keterlaluan mensakralkan budaya, tetapi tidak mensakralkan agama. Maka memunculkan ideologi. Jadi orang yang radikal itu sebenarnya bukan beragama, tetapi dia berideologi, dia berpemahaman, atau memiliki sistem gagasan tentang agama yang dia anut, jadi dia bukan beragama. Tetepi dia memiliki gagasan tentang agama yang dia anut. Kalau orang sudah masuk pada ideologi, maka science pun ditabrak. Kan agama itu adalah bagian yang susah sekali untuk ditakar, jadi kalau misalkan dia ditabrak agak wajar. Dalam tanda kutip agak wajar. Nah science itu secara konsensus dianggap lebih pasti dan lebih bisa ditakar. Lebih pasti, bukan sangat pasti. NAH tapi kalau ada orang yang sudah berideologi, itu bahkan science pun bisa ditabrak. Jadi kalau misalkan ada orang yang sudah beragama islam, tetapi radikal, padahal secara tekstual tidak boleh radikal, secara harfiah gak boleh. Ke dalam konsep etimologi gak boleh, semuanya dia gak boleh, tetapi dia tetapi melakukanya, karena sebenarnya dia itu berideologi, bukan beragama. Jadi orang yang beragama islam itu beda dengan orang yang berideologi islam. 

Ideologi itu sistem gagasan manusia, yang memahami sesuatu. Misalnya beginilah, contohnya begini. Di dalam islam perintahnya adalah menutup AURAT. Bagaimana cara menutup aurat? nah itu menjadi ideologi. Jadi manusia itu tidak bisa lepas dari ideologi, tetapi yang menjadi masalah ketika dia itu mensakralkan ideologi. BAHKAN menabrak agamanya sendiri. Banyak orang2 yang pada akhirnya menuhankan ideologi. Misalkan banyak orang yang berdemo, tegakkan syari'at islam. Itu sebenarnya mereka berideologi, bukan beragama. Karena ketika dia katakan tegakkan syari'at islam, seharusnya mereka gak boleh DEMO. Sebab di dalam islam, orang itu tidak boleh menyampaikan pendapat, sambil mengundang permusuhan, sambil dia ngehalangin orang lain jalan, sambil ngehalangi orang lain berlalu lalang, sampai dia bakar2 ban dan sebagainya, itu kan sudah melanggar ajaran islam. JADI harusnya gimana? cara untuk menyampaikan gagasan2 yang baik itu adalah sebuah kewajiban. Itu esensi dalam agama. TETAPI bagaimana caranya? nah caranya itu ideologi itu tadi. Ketika ada orang yang berdemo dan lain sebagainya ada orang yang tulus ikhlas, baik. Ketika sudah menjadi sistem yang digerakkan, dia maju serempak bersama-sama, dia sudah tidak lagi berjalan di atas agamanya, dia berjalan di atas ideologi yang menyelingkupinya. Inilah kemudian sangat2 sulit untuk kemudian bisa dipisah, oleh manusia kebanyakan. Manusia kebanyakan itu pada akhirnya mengikuti hawa nafsunya. 


Bahasa itu sebenarnya "kacau". Kekacauan itu terletak pada kita harus berkali kali untuk berhadapan dengan hambatan2, yang memunculkan distorsi dari setiap pemahaman. Ketika saya ngomong ke akang, teh, sebenarnya banyak orang tidak bersepakat tentang teh. Tapi kebanyakan orang bersepakat bahwa ini adalah cairan yang bisa diminum, tetapi bagian terbesar dari TEH itu tidak kita pahami. Misalkan lagi...

Apa yang dimaksud dengan SURABI. ?

Kalau misalkan Surabi itu adalah kue yang ada topingya, itu benar.
kalau misalkan Surabi itu adalah anugerah dari Tuhan, itu bener ya?
yang dimaksud dengan Surabi adalah makanan khas jawa barat. Itu juga bener ya, 

Padahal tiga jawaban itu beda2 semuanya. tapi kok semuanya benar? karena dalam perspektif yang berbeda beda. Nah ketika kita memahami teh, ketika kita memahami apa.. sebenarnya kita melihat pada satu perspektif tertentu, yang sebenarnya berbeda dengan perspektif orang lain. Ketika ada ayat yang seperti itu, teksnya begitu, tapi bagaimana orang memahaminya itu beda2 kan. Dan pada akhirnya orang yang berbeda beda itulah yang memunculkan banyak sekali tafsiran, gagasan, pikiran, interpretasi dan sebagainya. Dan orang2 itu pada akhirnya bikin golongan2, dan lain2. Kalau misalkan kita ambil sisi paling ekstrim, sebenarnya orang itu beragama, agama individual. Kalau misalkan kita telaah, ada orang yang beragama islam (misalnya). Kumpulin seribu orang disini, Maka, cara pandang mereka terhadap Tuhan, cara pandang mereka terhadap TAKDIR, cara pandang mereka terhadap kitab suci dan sebagainya, 1000 orang itu, seribu orang dengan sudut pandang yang berbeda. Jadi sebenarnya agama yang mereka anut itu agama identitas. Nah sebenarnya agama yang esensi yang mereka miliki itu adalah yang mereka pahami sendiri. Nah akhirnya kalau ada orang yang mencoba membenamkan pengalaman pribadinya kepada orang lain, harus sama dengan saya, nah itu yang namanya EGO itu.. yang ideologi itu. 

Jadi yang sebenarnya terjadi itu seperti apa? Tuhan itu memberikan kepada kita TEKS TEKS. Yang silahkan mau diinterpretasikan secara tekstual, kalau bahasa tafsirnya, mau 'irfaani, mau bayaani, mau burhani, dan lain sebagainya. Itu kalian sendiri yang ,,,, dan kalian sendiri yang bertanggung jawabnya. Pada dasarnya setiap orang tidak mungkin memiliki kesamaan, untuk semua sistem gagasan yang diterima.




 

 


 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banjirnya Ilmu Pengetahuan | Catatan Guru Gembul

  Disklaimer Ini adalah transkrip dari youtube perbincangan Helmi Yahya dengan Guru Gembul. Jadi kalau mau melihat lebih lengkap, bisa langsung saja ke sumber perbincanganya.    Zaman Media . Sekarang itu zaman media. Jadi kalau misalnya (ada pertanyaan) Pengetahuanya darimana? Itu sebenarnya pertanyaan kurang relevan untuk zaman sekarang. Karena kita (untuk) mengetahui / akses untuk mendapatkan informasi itu banyak sekali kan? (Untuk Zaman) Sekarang pertanyaan yang paling utama BUKAN Darimana kalian mendapatkan Pengetahuan?  Tetapi darimana? (kita mengetahui bahwa) Pengetahuan itu BENAR, Pengetahuan itu bisa DIVERIFIKASI.   Kurasi menjadi penting?  kegiatan mengelola benda-benda dalam ekshibisi di museum atau galeri Iya itu penting. Kan kalau misalkan dalam metodologi ilmu itu, setelah kita mengumpulkan sebanyak mungkin sumber, kita mampu mengkritik sumber itu. Nah kita sekarang, di zaman digital, di zaman cyber, di zaman yang entah namanya apa ini? yang ...

Pendidikan Anak Sejak Dini - dr Ryu Hasan

Mental Aritmatika . Di tahun 90an akhir atau awal 2000an itu, ada les "mental aritmatika", anaknya dilesin semua. Lha Kamu itu pingin anakmu jadi kalkulator atau gimana sih?  Sehebat-hebatnya anak itu bisa ngitung, masih kalah cepet sama kalkulator penjual tahu. Lho ngapain? daripada gitu, ya bekali aja anakmu dengan kalkulator.  Terus ada lagi "super brain" anak diajari ngapalin. Lha kenapa sih? gak gitu lah. Memangnya anakmu jadi HPU? kan gak demikian kan? Anakmu jadi HPU, ibukota ini dimana, ini dimana?  lho ngapain? gitu lho, wong nanti kerjanya di bank, gak perlu ngafalin HPU, ngapain?  Raja Singosari pertama, lho gak penting. Gak penting banget gitu lho, Raja Singosari yang terkenal, ngapain? dihafalin? Nanti kerjanya di Bank, jadi teller Bank.  In the late 90s or early 2000s, there was mental arithmetic tutoring. Parents were flocking to enroll their kids. Do you really want your child to become a calculator or something? As quickly as the child can calc...

Nama - Nama Islami | Catatan Guru Gembul 255

    Nama itu tidak hanya menunjukkan cita2 orang tua, kepada anak2 yang diberinya nama. Tetapi nama itu adalah bagian dari unsur kebudayaan, yang bisa membuat kita meneropong, apa yang terjadi pada masyarakat itu. Apakah itu sintesis antar unsur2 kebudayaan, apakah bahkan mungkin agresi kebudayaan lain pada masyarakat setempat.     Joel C Kuipers Telah mengumpulkan 3.7juta nama dalam satu abad di Indonesia yang menjadi bukti adanya pergeseran nama JAWA merosot, tajam tergantikan nama2 arab, atau campuran ARAB   Sejak kemunculan pertama kalinya, masyarakat arab itu sudah menghadapi masalah yang sangat pelik. Yaitu mana yang merupakan budaya arab, dan mana yang merupakan nilai2 dasar islam. Pemisahan ini memang faktanya sulit untuk dilakukan, karena memang faktanya islam berkembang dan lahir di tradisi arab jahiliyah, pada waktu itu . Dan bagaimanapun ada unsur2 budaya arab yang bisa masuk ke nilai2 islam. Nah tetapi pemisahan antara nilai islam dan budaya ar...