Puasa, Bulan Ramadhan, bulan yang biasa2 aja. Tidak ada keistimewaanya...
Sebenarnya ini permainan sudut pandang. Kan dulu itu, pas di zaman Nabi itu, ada orang yang baru masuk islam. Pas nyari Nabi, untuk berguru, nabinya sudah meninggal. Karena perjalanan dulu itu kan jauh, misalkan dari Yaman ke Mekkah itu berapa bulan. Dapat kabar, masuk islam, pas datang ke Mekkah, Nabinya sudah tidak ada. Nabinya sudah meninggal. Ya yang ala kadarnya saja buat saya, untuk bisa berislam bagaimana? dia nanya kepada para Sahabat. Nah para sahabat itu ditanya, dengan tiga pertanyaan.
Di dalam islam,
- Amalan yang terbaik itu apa?
- Hari yang terbaik apa?
- Bulan yang terbaik apa?
Nanyain ke para sahabat, semua sahabat jawabanya sama..
- Amalan terbaik, sholat, tepat pada waktunya.
- Hari terbaik itu Jum'at
- Bulan terbaik Ramadhan
Nah pas nanya nanya nanya.. ada jawaban yang berbeda dari Ali bin Abi Tholib. Ali itu ditanya tapi jawabanya beda. Amalan terbaik itu apa? kalau kata Abu Bakar itu Sholat.. oo.. nggak... Amalan terbaik itu adalah amalan yang diterima. Hari terbaik hari jum'at bukan? oooh bukan, hari terbaik itu adalah hari di kala kita meninggal khusnul khothimah. Setelah itu gak ada dosa lagi kan? buat kita. Kita itu endingnya, happy ending. Jum'at mah, rajanya hari. Tapi untuk kita, kita menutup hari dalam kondisi yang paling baik. Berarti bulan terbaik bukan bulan ramadhan? Bulan yang terbaik itu bukan bulan ramadhan. (Memang) Bulan itu bulan yang banyak fasilitas dari Alloh, (tetapi) Bulan terbaik itu adalah bulan dimana kita paling banyak pahalanya, paling banyak kebaikanya, dan paling sedikit dosanya, paling sedikit kesalahanya. Nah.. diantara sekian bulan, cari bulan dimana kita melakukan dosa paling sedikit, dan melakukan amalan yang paling banyak. Dan itu bisa setiap bulan..
Jadi maksudnya Ali itu bukan berbeda pendapat, atau bentrok gitu, cuman dalam perspektif yang lain. Jadi kalau perspektif sahabat yang lain benar, tetapi perspektif yang formal. Sedangkan Ali, perspektifnya itu yang individual. Untuk kita tuh, bulan terbaik itu bukan bulan ramadhan, Jadi jangan ditunggu2 bulan ramadhan. Yang dicari itu kita, harus cari sendiri bulan terbaik. Yaitu kita melakukan amalan yang paling baik, sampai2 kita melakukan dosa yang paling sedikit. Jadi seandainya kita itu meninggal, kita meninggal dalam kondisi khusnul khothimah. Sebenarnya kan, kalau dianggap bulan ramadhan bulan terbaik, bahwa setan2 di belenggu, kan setan dibelenggu itu kan sama kita yang sedang shaum. Jadi kalau gak shaum, atau tidak memanfaatkan bulan ini kan.. malah jadi dzolim.
Setahu saya, bulan ramadhan di Indonesia itu justrus mengingkari, nilai2 bulan ramadhan itu sendiri. Misalkan, kita punya tradisi, yang tradisi itu malah menyangkal... mau selesai bulan ramadhan, menyambut hari kemenangan. Padahal kita pada kalah... Kenapa? misalkan menyambut syawal, gitu kan... Di Indonesia itu sampai ada data, inflasi itu per tahunya naik 5 persen. Diantara inflasi itu, yang paling banyak menyumbang diantaranya adalah bulan puasa dan lebaran. Jadi perputaran uang di waktu itu justru jauh lebih besar. Gimana ceritanya? pas bulan ramadhan kita seharusnya menahan diri, tetapi angka statistik justru (mencatat) kita naik 5 persen. Nah karena apa? karena kita emang gak makan pas siangnya, tapi kita nabung, Jadi misal dari siang2 nyari takjil. Dikumpulkan, nanti pas waktu berbuka malah gak habis, kekenyangan. Itu banyak kejadian seperti itu... Biasanya hampir semua budaya itu menyalahi atau bertentangan dengan nilai2 religi. Misalkan.. sekarang2, sekarang itu perputaran uang di masyarakat yang tadi naik sampai 5% itu (perputaran uang haram). Yang naiknya itu... diantaranya apa?
ada preman2 yang punya toko, minta THR
orang2 dari kampung, biasanya mereka bertani, mereka bekerja, mereka cukup dengan itu. Pas datang romadhon datang ke kota untuk mengemis. Banyak kan? misalkan kasus seperti itu.
atau ada orang2, sengaja cari toko buka di siang hari. Buat diperas, nanti kalau enggak, digrebek. Ada kan? kejadian seperti itu.
Nah kejadian2 seperti itu khas di bulan ramadhan. Makanya perputaran uang yang sampai 5% itu banyak yang uang haram itu. Makanya bulan ramadhan itu adalah amalan yang kita gak bisa takar, gak bisa ukur. Jadi kalau misalkan sholat, kita bisa takar, kita bisa ukur. Misalkan apakah kita thuma'ninah atau tidak? Bacaanya bener atau enggak? gitu kan? dan hal2 yang semacam itu. Nah kalau puasa, kita susah untuk nakar. Sebab ada perempuan lewat, dan itu menaikkan rasa ketertarikan kita. Kita kan gak tahu, itu batal atau enggak. Karena itu sepenuhnya urusan diri dengan Tuhan saja. (10.29)
Komentar
Posting Komentar