Langsung ke konten utama

Tentang Pendidikan dan Kurikulum | Catatan Rocky Gerung

 

Dulu, sekolah itu didorong oleh ENERGI ETIS, yaitu untuk menghasilkan 

  • keadilan 
  • dan kebebasan

Seperti para FOUNDING PARENTS kita itu. Kalau sekarang itu gak ada lagi kan? Karena sekarang orang menganggap bahwa sekolah itu langsung dikalkulasi dengan jumlah pendapatan setelah lulus. Karena memang gak ada pikiran lagi untuk membebaskan bangsa, untuk menghasilkan keadilan. Jadi kalau kita bandingkan misalnya, PRANCIS itu kan sekolahnya didesain berdasarkan ide revolusi PRANCIS. 

SOLIDARITAS
PERSAUDARAAN

  • EGALITY
  • FRATERNITY
  • LIBERTY

Jadi ada dimensi kesosialan manusia, karena revolusi Prancis. Amerika cara dia mendidik lain lagi, dia ingin manusia bisa sebebas-bebasnya, mencapai apa yang dia inginkan secara individu. Karena di Amerika tidak ada revolusi sosial, adanya revolusi kemerdekaan tu. Nah Indonesia pernah punya dimensi pendidikan seperti PRANCIS. 

  • MERDEKA
  • SETARA

karena penjajahan tu. Lalu masuk di dalam sistem pengendalian orde baru. Nah sekarang tentu saja orde baru punya desain sendiri untuk memastikan bahwa stabilitas itu harus diutamakan. Karena itu kampus dikendalikan dan segala macam, nah kita tahu PIKIRAN tidak bisa poping UP. Nah sekarang keterbukaan informasi itu tidak diikuti dengan kedalaman argumentasi. Orang yang pragmatis itu, dia sudah eksplore berbagai macam cara, lalu dia ambil yang paling memungkinkan, menghasilkan kebahagiaan buat dia. TAPI kita gak eksplore, karena tidak pernah dikuras energi kita. Tiba2 udah masuk dengan janji bahwa Indonesia akan tumbuh 7% Lalu semua berharap, oke itu hanya bisa kita hasilkan, atau mengambil manfaat dari janji itu dengan start up. Jadi Start up langsung dikaitkan dengan potensi dengan duit di 7% pertumbuhan kan? Gak lagi dianggap kalau oke.. kalau teknologi 4.0, maka society seharusnya 0.4 bisa melakukan pengendalian etis terhadap ambisi2 ilmu pengetahuan, atau ambisi teknologi. Itu yang gak ada tu. Sehingga orang kalau ditanya mau jadi apa? misalnya dia mau jadi lawyer yang top, atau jadi marketer yang top. Gak lagi orang memikirkan untuk menjadi ahli untuk merawat bangsa ini secara etis. Karena itu fakultas Ekonomi dimana2 hanya laku kalau ditambahi bisnis, FEB Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Karena yang dijual Bisnisnya tu. Padahal kita butuh ekonom yang ngerti tentang problem bangsa ini. Tapi bayangkan misalnya ITB yang didesain sebagai kampus rakyat, dulu FAPERTA Fakultas Ekonomi Pertanian, karena memang bertujuan untuk ekonomi rakyat. Sekarang FAKULTAS EKONOMI dan BISNIS, itu agak ajaib. Karena Trend nya agrobisnis, agroindustri. AgroIndustri adalah soal bisnis, gak dianggap soal petani. Kan Petani gak masuk kesitu. Orang yang masuk ke ITB akan masuk ke corporasi besar, tidak kembali ke DESA pada akhirnya. Jadi kekacauan kurikulum itu yang membuat kita, seolah2 mendua menghadapi masa depan. 

Karena dianggap bahwa kebutuhan itu adalah sesuatu yang dimaksimalkan. Kalau di kita itu sekolah sebagai sarana kekuasaan. Misalnya tu, UI orang begitu banyak ingin menjadi Doktor. Bupati ingin jadi Doktor, Calon Gubernur / Gubernur ingin jadi Doktor. Karena dia mau tambah predikat DOKTOR. Lalu Bupati memerintah, ngapain jadi doktor. Kalau orang yang jadi doktor itu kan yang mau ngajar di Universitas, kan metodologi yang dipentingkan, membuat abstraksi. Di Amerika itu gak ada yang jadi politisi tapi dia mesti jadi doktor dulu, kan? itu kan diketawain orang kan? Tapi yang lebih bahaya karena dia punya ambisi untuk nambahin gelar di depan, doktor untuk kampanye nanti, lalu dia sewa mahasiswa untuk bikin disertasi, maka akibatnya adalah plagiasi. Jadi buruknya disitu, karena dia gak ngerti fungsi ini itu apa? mau nambah pengetahuan? atau pamerin nambah kekuasaan? atau untuk cari kerja. Kan boleh kan? orang sekolah untuk cari kerja? 


Jadi dari awal pendidikan kita terkomersialisasi, bukan karena kebutuhan pasar, tetapi karena kebutuhan feodalisme. Karena ketika dia jadi doktor, dia menjadi lebih tinggi dari orang lain. Itu yang menyebabkan bangsa besar, tetapi dihuni oleh otak2 kecil. Kan orang yang membeli gelar itu karena otaknya kecil kan? TAPI bung rocky, bisa saja karena marketnya ada. Tapi kalau dia terus2an gitu, kan terjadi involusi akhirnya. 8.39


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banjirnya Ilmu Pengetahuan | Catatan Guru Gembul

  Disklaimer Ini adalah transkrip dari youtube perbincangan Helmi Yahya dengan Guru Gembul. Jadi kalau mau melihat lebih lengkap, bisa langsung saja ke sumber perbincanganya.    Zaman Media . Sekarang itu zaman media. Jadi kalau misalnya (ada pertanyaan) Pengetahuanya darimana? Itu sebenarnya pertanyaan kurang relevan untuk zaman sekarang. Karena kita (untuk) mengetahui / akses untuk mendapatkan informasi itu banyak sekali kan? (Untuk Zaman) Sekarang pertanyaan yang paling utama BUKAN Darimana kalian mendapatkan Pengetahuan?  Tetapi darimana? (kita mengetahui bahwa) Pengetahuan itu BENAR, Pengetahuan itu bisa DIVERIFIKASI.   Kurasi menjadi penting?  kegiatan mengelola benda-benda dalam ekshibisi di museum atau galeri Iya itu penting. Kan kalau misalkan dalam metodologi ilmu itu, setelah kita mengumpulkan sebanyak mungkin sumber, kita mampu mengkritik sumber itu. Nah kita sekarang, di zaman digital, di zaman cyber, di zaman yang entah namanya apa ini? yang ...

Pendidikan Anak Sejak Dini - dr Ryu Hasan

Mental Aritmatika . Di tahun 90an akhir atau awal 2000an itu, ada les "mental aritmatika", anaknya dilesin semua. Lha Kamu itu pingin anakmu jadi kalkulator atau gimana sih?  Sehebat-hebatnya anak itu bisa ngitung, masih kalah cepet sama kalkulator penjual tahu. Lho ngapain? daripada gitu, ya bekali aja anakmu dengan kalkulator.  Terus ada lagi "super brain" anak diajari ngapalin. Lha kenapa sih? gak gitu lah. Memangnya anakmu jadi HPU? kan gak demikian kan? Anakmu jadi HPU, ibukota ini dimana, ini dimana?  lho ngapain? gitu lho, wong nanti kerjanya di bank, gak perlu ngafalin HPU, ngapain?  Raja Singosari pertama, lho gak penting. Gak penting banget gitu lho, Raja Singosari yang terkenal, ngapain? dihafalin? Nanti kerjanya di Bank, jadi teller Bank.  In the late 90s or early 2000s, there was mental arithmetic tutoring. Parents were flocking to enroll their kids. Do you really want your child to become a calculator or something? As quickly as the child can calc...

Nama - Nama Islami | Catatan Guru Gembul 255

    Nama itu tidak hanya menunjukkan cita2 orang tua, kepada anak2 yang diberinya nama. Tetapi nama itu adalah bagian dari unsur kebudayaan, yang bisa membuat kita meneropong, apa yang terjadi pada masyarakat itu. Apakah itu sintesis antar unsur2 kebudayaan, apakah bahkan mungkin agresi kebudayaan lain pada masyarakat setempat.     Joel C Kuipers Telah mengumpulkan 3.7juta nama dalam satu abad di Indonesia yang menjadi bukti adanya pergeseran nama JAWA merosot, tajam tergantikan nama2 arab, atau campuran ARAB   Sejak kemunculan pertama kalinya, masyarakat arab itu sudah menghadapi masalah yang sangat pelik. Yaitu mana yang merupakan budaya arab, dan mana yang merupakan nilai2 dasar islam. Pemisahan ini memang faktanya sulit untuk dilakukan, karena memang faktanya islam berkembang dan lahir di tradisi arab jahiliyah, pada waktu itu . Dan bagaimanapun ada unsur2 budaya arab yang bisa masuk ke nilai2 islam. Nah tetapi pemisahan antara nilai islam dan budaya ar...