Langsung ke konten utama

Kajian tentang Humaniora | Catatan Guru Gembul 284

Kajian2 tentang humaniora, itu pada umumnya rasis. Kita hanya berbicara tentang orang2 besar, orang2 hebat. Ketika kita misalkan belajar sejarah tentang Indonesia, maka apa yang disuguhkan kepada kita itu tentang tokoh2 besar, raja2 besar, panglima2 besar. Tapi kita akan mengabaikan apa yang dilakukan oleh masyarakat miskin pada waktu itu. Kan kita buta sama sekali. Atau ketika kita berbicara tentang sastra, kita akan selalu mengutip, pendapat2 dari sastrawan besar, orang2 besar. TANPA sadar masyarakat di kalangan bawah pun, menciptakan sastra dan bahasa mereka sendiri yang justru lebih variatif dan membumi.  KENAPA kita harus melihat hal2 yang besar seperti itu? karena masyarakat pun tentu saja memang menyukai tentang hal2 yang besar. BETAPAPUN kita benci terhadap politikus, kita kan tetap menyimaknya. Kita tidak suka terhadap.. para selebritas itu, kita pasti akan menyaksikanya, karena kita memang suka terhadap orang2 besar. Sehingga ketika konsumen2 suka terhadap cerita orang2 besar, maka produsen pun akan memproduksi cerita tentang orang2 yang besar. 

 

Saya pun suka terhadap cerita orang yang besar, setelah saya membaca buku, orang2 yang tertindas, itu juga berhak untuk berbicara. Dan orang2 pinggiran, orang2 yang tersisihkan itu juga layak untuk didengarkan. 

 

--

 

Baraya di masa lampau itu ada dua jenis genre sastra yang sering ditampilkan. Yang pertama adalah tragedi, yaitu karya sastra yang ditampilkan penuh dengan kesedihan. Yang diharapkan orang yang menyimaknya itu akan terbawa pada situasi yang diceritakan, dalam sastra itu kemudian mengambil pelajaran. Syukur2 kemudian menjadi orang yang lebih baik, yang tidak menyakiti orang lain. 

 

Kemudian ada genre yang lain, yaitu komedi. Yang menampilkan sastra2 yang mislogika, yang kacau, yang lucu, yang memberikan kepada kita kesan bahwa sesuatu yang bodoh itu layak untuk ditertawakan. Dan karena itulah, biasanya tribune2 penonton di acara2 komedi itu penuh dengan gelak tawa. Sebenarnya di masa lampau itu dua genre sastra itu ditampilkan bersamaan, atau ditampilkan dalam satu wadah yang sama. Tetapi lambat laun, orang2 mulai menyadari bahwa ketika komedi ditampilkan, orang2 akan tertawa terpingkal2. Ini sesungguhnya menjadi masalah besar di masa lampau. KARENA orang2 di masa dulu itu, ketika feodalisme itu lagi kuat2nya. Itu harus terpisah berdasarkan stratifikasinya, dan stratifikasi ini berlaku untuk semua hal. TERMASUK juga, bagaimana cara seseorang itu bersikap. Jadi misal gini, orang2 miskin di masa lampau, itu bebas untuk saling tertawa terbahak2, hidup dalam kubangan, toh mereka itu fakir miskin, orang yang biasa. TETAPI untuk kalangan bangsawan, raja2, mereka tidak boleh terlihat seperti orang miskin. 

 

PEMISAHAN ini, akhirnya membuat komedi dan tragedi itu akhirnya dipisahkan. KALAU komedi ditampilkan di depan raja, maka itu akan menghancurkan martabat raja. Karena memaksa raja2 itu untuk tertawa terpingkal2. Nah raja2 akan dipaksa untuk terpingkal2 seperti itu. Karena itu komedi itu dipisahkan dari istana atau dari sekeliling raja2. Maka pada akhirnya, 

  • komedi itu hanya untuk fakir miskin. 
  • Sedangkan tragedi hanya untuk bangsawan dan orang kaya. 

Nah sebenarnya, pemisahan itu walau sudah tidak berlaku lagi secara formal, karena kita sudah tidak lagi kerajaan, dan kita sudah tidak lagi hidup di dunia feodal. TETAPI warisan dari kebiasaan2 itu masih berlaku sampai sekarang. Misalkan baraya.. bagaimana cara membedakan antara orang kaya dan orang miskin? Orang miskin itu kalau nonton bola... (dia tidak menahan) emosinya. 

 

Orang miskin itu tidak terikat protokol. Mereka bebas menampilkan ekspresinya.

 

TETAPI kalau baraya misalkan lihat orang kaya, orang super kaya, atau pejabat ketika dia melihat pertunjukan, maka dia tepuk tanganya pun beda. TEPUK TANGAN fakir miskin, dari tepuk tangannya pun bisa sangat berbeda. Kenapa seperti itu? karena ini kelanjutan dari tradisi nenek moyang kita, yang membuat stratifikasi masyarakat menjadi seperti itu. 


Sejarah awal Komedi itu adalah pertunjukkan yang menunjukkan kekonyolan, ketidaksempurnaan, dan kejelekan. Hal2 jelek yang tidak menyakitkan sebagian atau seluruhnya ditampilkan untuk bahan tertawaan.

 

Setiap orang kaya, setiap orang miskin, bukan hanya dipisahkan dari kekayaan mereka, jadi juga dengan ekspresi dan karakter mereka dalam kehidupan keseharian. Ketika sastra kemudian dipadukan dengan musik, maka kedua belah pihak, antara tragedi dengan komedi juga masing2 berkembang ke arah yang sama, tetapi tetap dalam jalur yang berbeda. MISALKAN sastra2 yang tragedi, itu diantaranya adalah roman, misalkan cerita2 yang dramatis semacam itu. Itu kemudian berkembang menjadi musik, tetapi musiknya juga

  • yang sangat mewah.  
  • sangat mahal,
  • sangat rumit
  • dan berbeda. 

 

Diantaranya misalkan musik2 tenor, atau musik2 klasik. Itu sulit sekali..... KENAPA suaranya harus melengking dan berayun2 semacam itu? Itu untuk menekankan bahwa musik itu untuk orang2 yang eksklusif. Untuk orang2 yang sulit dijangkau oleh orang lain. Ini adalah musik yang khusus untuk orang kaya. Sedangkan yang fakir miskin, yang orang2 biasa, itu mengembangkan musik juga, tapi musiknya santuy, musiknya sederhana, enak, tetapi bisa merengkuh semua pihak. Bisa mempersatukan orang2 yang bersengketa di bawah sana. Makanya baraya kalau misalkan mendengar musik2 yang kalangan bawah itu diantaranya adalah musik POP. SEDERHANA sekali... Tidak rumit sama sekali, ketukanya hanya begitu2 saja dan sebagainya, nah kenapa seperti itu? karena memang untuk fakir miskin. 

Fakir Miskin = Orang di luar golongan istana. Di zaman Feodal, kalau bukan kalangan bangsawan, hampir pasti miskin. 

 

Jadi saya mohon maaf, kan banyak sekali kritik2 terhadap musik di Indonesia. Kenapa sih? musik itu terbatas tentang cinta lagi, cinta lagi. Kata2nya itu terbatas dengan diksi2 yang dipilih tetep aja, ujung2nya kesana2 juga. KENAPA harus seperti itu? jangan salahkan musiknya, tetapi memang pada dasarnya, musik pop itu memang untuk kalangan menengah ke bawah. Untuk orang2 di luar istana

Musik pop adalah music profesional yang mengacu pada musik rakyat dan musik seni rupa.
Pete Seeger

Sebenarnya masih ada lagi yang lebih bawah dari musik pop. Jadi ceritanya begini, untuk musik klasik, yang susah-susah 9.

Musik pop dibuat untuk komersial fana, dan mudah diakses. Ia adalah urusan perusahaan, bukan urusan seni. Ia datang untuk menarik semua orang, dan tidak menunjukkan satu khas dan selera tertentu. SIMON FRITH









 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banjirnya Ilmu Pengetahuan | Catatan Guru Gembul

  Disklaimer Ini adalah transkrip dari youtube perbincangan Helmi Yahya dengan Guru Gembul. Jadi kalau mau melihat lebih lengkap, bisa langsung saja ke sumber perbincanganya.    Zaman Media . Sekarang itu zaman media. Jadi kalau misalnya (ada pertanyaan) Pengetahuanya darimana? Itu sebenarnya pertanyaan kurang relevan untuk zaman sekarang. Karena kita (untuk) mengetahui / akses untuk mendapatkan informasi itu banyak sekali kan? (Untuk Zaman) Sekarang pertanyaan yang paling utama BUKAN Darimana kalian mendapatkan Pengetahuan?  Tetapi darimana? (kita mengetahui bahwa) Pengetahuan itu BENAR, Pengetahuan itu bisa DIVERIFIKASI.   Kurasi menjadi penting?  kegiatan mengelola benda-benda dalam ekshibisi di museum atau galeri Iya itu penting. Kan kalau misalkan dalam metodologi ilmu itu, setelah kita mengumpulkan sebanyak mungkin sumber, kita mampu mengkritik sumber itu. Nah kita sekarang, di zaman digital, di zaman cyber, di zaman yang entah namanya apa ini? yang ...

Pendidikan Anak Sejak Dini - dr Ryu Hasan

Mental Aritmatika . Di tahun 90an akhir atau awal 2000an itu, ada les "mental aritmatika", anaknya dilesin semua. Lha Kamu itu pingin anakmu jadi kalkulator atau gimana sih?  Sehebat-hebatnya anak itu bisa ngitung, masih kalah cepet sama kalkulator penjual tahu. Lho ngapain? daripada gitu, ya bekali aja anakmu dengan kalkulator.  Terus ada lagi "super brain" anak diajari ngapalin. Lha kenapa sih? gak gitu lah. Memangnya anakmu jadi HPU? kan gak demikian kan? Anakmu jadi HPU, ibukota ini dimana, ini dimana?  lho ngapain? gitu lho, wong nanti kerjanya di bank, gak perlu ngafalin HPU, ngapain?  Raja Singosari pertama, lho gak penting. Gak penting banget gitu lho, Raja Singosari yang terkenal, ngapain? dihafalin? Nanti kerjanya di Bank, jadi teller Bank.  In the late 90s or early 2000s, there was mental arithmetic tutoring. Parents were flocking to enroll their kids. Do you really want your child to become a calculator or something? As quickly as the child can calc...

Nama - Nama Islami | Catatan Guru Gembul 255

    Nama itu tidak hanya menunjukkan cita2 orang tua, kepada anak2 yang diberinya nama. Tetapi nama itu adalah bagian dari unsur kebudayaan, yang bisa membuat kita meneropong, apa yang terjadi pada masyarakat itu. Apakah itu sintesis antar unsur2 kebudayaan, apakah bahkan mungkin agresi kebudayaan lain pada masyarakat setempat.     Joel C Kuipers Telah mengumpulkan 3.7juta nama dalam satu abad di Indonesia yang menjadi bukti adanya pergeseran nama JAWA merosot, tajam tergantikan nama2 arab, atau campuran ARAB   Sejak kemunculan pertama kalinya, masyarakat arab itu sudah menghadapi masalah yang sangat pelik. Yaitu mana yang merupakan budaya arab, dan mana yang merupakan nilai2 dasar islam. Pemisahan ini memang faktanya sulit untuk dilakukan, karena memang faktanya islam berkembang dan lahir di tradisi arab jahiliyah, pada waktu itu . Dan bagaimanapun ada unsur2 budaya arab yang bisa masuk ke nilai2 islam. Nah tetapi pemisahan antara nilai islam dan budaya ar...