Langsung ke konten utama

Zaman Internet | Catatan Guru Gembul Part 9

Disklaimer:

Ini adalah transkrip dari percakapan Guru Gembul dan Deddy Corbuzier di Channel Podcast. Mohon maaf jika terjadi kesalahan penulisan, atau pengutipan dari percakapan. Karena kami hanya menuliskan yang menurut kami, menarik untuk disajikan. Semoga bisa diambil manfaat untuk kebaikan kita bersama.

 

Sekarang zaman internet, zaman ketika pinter saja tidak cukup. Sekarang zaman internet, zaman kita tidak lagi menganggap bahwa informasi itu penting, dan menganggap bahwa informasi itu yang meningkatkan prestige kita. Karena semua akses informsi itu sudah di dapat. 

Jadi sekarang orang yang paling banyak kebencianya, bisa mendapatkan informasi kebencianya. Orang yang mau pinter, bisa menambah informasi tentang kepinteranya. Orang yang mau tersesat, bisa juga dia mendapatkan informasi yang membuat dia semakin tersesat. Jadi masalah yang dibutuhkan sekarang itu bukan untuk mendapatkan informasi untuk jadi pintar, TETAPI bagaimana cara kita memverifikasi informasi itu agar kita menjadi pintar. Cara kita memverifikasi itulah yang membuat kita lebih elite dan menjadi manusia yang independent di Zaman sekarang. 

Tapi kan tidak semua orang mampu melakukan itu ya, iya, makanya itu disebutnya elite. Kita dalam banyak hal itu naik, tapi kenaikan itu yang memunculkan goncangan2. Goncangan2 seperti itu karena orang tidak terbiasa berhadapan dengan sistem moral, sistem nilai yang berbeda. Yang sering saya sampaikan, generasi zaman sekarang, saya mohon maaf ya. Itu adalah generasi "yang dikutuk" karena tidak pernah ada generasi yang mendapatkan tantangan sebesar generasi saat ini. Orang 300tahun yang lalu, nenek dari neneknya masih relevan menyampaikan (nasihat) yang relevan untuk cucu dan cucunya lagi. SEKARANG orang kayak pak deddy, mengajarkan kepada anak, itu tidak relevan dalam 10 tahun ke depan. Karena facebook sudah berganti jadi tik tok. Tik Tok sudah berganti jadi meta, meta sudah berganti jadi (dan sebagainya). Perubahanya habis2an dan cepat. Kita dulu setiap generasi, idenya gitu2 aja bisa, tapi  kita, setiap 5tahun, setiap 10tahun berubah. 

 

Siapakah orang yang bisa beradaptasi dengan perubahan itu? yaitu orang2 yang menciptakan perubahan itu. Orang yang tidak menciptakan itu, tergusur. Kita masyarakat indonesia sekarang, adalah penikmat teknologi, dan karena itu mereka yang goncang. Kalau seandainya mereka tidak mau goncang, mereka harus terlibat dalam inovasi dan penciptaan, teknologi dan nilai2 yang mengikutinya. Mereka itu generasi yang dikutuk, karena mereka dituntut untuk beradaptasi cepat, yang tidak pernah dialami sebelumnya.  Makanya sekarang, orang tua dan anak itu beda sudut pandang, beribet terus. Kata anak kecil ke kita, kita itu ketinggalan zaman. Kata kita ke anak kecil, anak kecil sekarang sudah kayak gini. Udah berubah semuanya. 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banjirnya Ilmu Pengetahuan | Catatan Guru Gembul

  Disklaimer Ini adalah transkrip dari youtube perbincangan Helmi Yahya dengan Guru Gembul. Jadi kalau mau melihat lebih lengkap, bisa langsung saja ke sumber perbincanganya.    Zaman Media . Sekarang itu zaman media. Jadi kalau misalnya (ada pertanyaan) Pengetahuanya darimana? Itu sebenarnya pertanyaan kurang relevan untuk zaman sekarang. Karena kita (untuk) mengetahui / akses untuk mendapatkan informasi itu banyak sekali kan? (Untuk Zaman) Sekarang pertanyaan yang paling utama BUKAN Darimana kalian mendapatkan Pengetahuan?  Tetapi darimana? (kita mengetahui bahwa) Pengetahuan itu BENAR, Pengetahuan itu bisa DIVERIFIKASI.   Kurasi menjadi penting?  kegiatan mengelola benda-benda dalam ekshibisi di museum atau galeri Iya itu penting. Kan kalau misalkan dalam metodologi ilmu itu, setelah kita mengumpulkan sebanyak mungkin sumber, kita mampu mengkritik sumber itu. Nah kita sekarang, di zaman digital, di zaman cyber, di zaman yang entah namanya apa ini? yang ...

Pendidikan Anak Sejak Dini - dr Ryu Hasan

Mental Aritmatika . Di tahun 90an akhir atau awal 2000an itu, ada les "mental aritmatika", anaknya dilesin semua. Lha Kamu itu pingin anakmu jadi kalkulator atau gimana sih?  Sehebat-hebatnya anak itu bisa ngitung, masih kalah cepet sama kalkulator penjual tahu. Lho ngapain? daripada gitu, ya bekali aja anakmu dengan kalkulator.  Terus ada lagi "super brain" anak diajari ngapalin. Lha kenapa sih? gak gitu lah. Memangnya anakmu jadi HPU? kan gak demikian kan? Anakmu jadi HPU, ibukota ini dimana, ini dimana?  lho ngapain? gitu lho, wong nanti kerjanya di bank, gak perlu ngafalin HPU, ngapain?  Raja Singosari pertama, lho gak penting. Gak penting banget gitu lho, Raja Singosari yang terkenal, ngapain? dihafalin? Nanti kerjanya di Bank, jadi teller Bank.  In the late 90s or early 2000s, there was mental arithmetic tutoring. Parents were flocking to enroll their kids. Do you really want your child to become a calculator or something? As quickly as the child can calc...

Nama - Nama Islami | Catatan Guru Gembul 255

    Nama itu tidak hanya menunjukkan cita2 orang tua, kepada anak2 yang diberinya nama. Tetapi nama itu adalah bagian dari unsur kebudayaan, yang bisa membuat kita meneropong, apa yang terjadi pada masyarakat itu. Apakah itu sintesis antar unsur2 kebudayaan, apakah bahkan mungkin agresi kebudayaan lain pada masyarakat setempat.     Joel C Kuipers Telah mengumpulkan 3.7juta nama dalam satu abad di Indonesia yang menjadi bukti adanya pergeseran nama JAWA merosot, tajam tergantikan nama2 arab, atau campuran ARAB   Sejak kemunculan pertama kalinya, masyarakat arab itu sudah menghadapi masalah yang sangat pelik. Yaitu mana yang merupakan budaya arab, dan mana yang merupakan nilai2 dasar islam. Pemisahan ini memang faktanya sulit untuk dilakukan, karena memang faktanya islam berkembang dan lahir di tradisi arab jahiliyah, pada waktu itu . Dan bagaimanapun ada unsur2 budaya arab yang bisa masuk ke nilai2 islam. Nah tetapi pemisahan antara nilai islam dan budaya ar...