Kata Etika dan Etiket bisa bedain ya? Jadi bukan Etiket Lingkungan, tetapi ETIKA LINGKUNGAN. Ethics (ETIKA) artinya the as it should be, keharusan normatifitas, yang basisnya adalah argumen. Itu yang namanya Etis, jadi sesuatu itu disebut punya masalah etis, bila dia menuntut justifikasi rasional terhadap suatu problem. Jadi
- bukan karena keyakinan,
- bukan karena kebiasaan,
- bukan karena hobi,
maka itu disebut sebagai ethics, tetapi karena ada susunan pikiran, untuk mengaktifkan argumen.
Ah tidak ethis anda berbohong tentang situasi ekonomi. Itu bukan soal etika, disitu soal OPINI. TETAPI ethics selalu menimbulkan konfrontasi argumen.
Cuplikan Video bisa kalian saksikan disini, temen2.
Etika Lingkungan
Jadi saya mau mengambil beberapa poin, yang telah diucapkan oleh pengajar yang lain selama tiga sesi yang lalu. Nah Supaya kita tune in dengan soal ethics ini... dan Etika Lingkungan itu dianggap sebagai New Kind of Ethics, karena biasanya orang membicarakan ethics itu dalam rangka tuntutan mempromosikan humanity. Di Etika lingkungan kita pindah dari center (fokus) yang ANTROPOLOGIS ke BIOSENTRIS. Jadi ada refocusing di dalam pembicaraan ethics.
(Dulu) orang gak kenal tentang hak2 binatang (misalnya).
- Hak Burung untuk terbang
- Hak mawar untuk tetap mekar
- Hak sungai untuk tetap dingin
- Hak gunung untuk tetap dingin
Orang anggap itu aneh, kalau barang di luar manusia diberi status moral. Sekarang hal itu justru dianggap sebagai new kind of ethics.
Hak burung dara untuk terbang, berarti hak pohon untuk tidak ditebang. Sebab burung dara berhak membuat sarang di Pohon. Jadi dengan sendirinya ada dua hak disitu,
- hak burung dara,
- dan hak pohon.
Cuplikan Video bisa kalian saksikan disini, temen2.
Sekarang kalau orang tanya, apa dasarnya burung dara punya hak? apa dasarnya? pohon harus punya hak, itu kita berbicara tentang Etika Lingkungan. Dasarnya apa? pembenaranya apa? kalau orang bilang, ya kan tradisinya begitu... supaya hijau, ya itu soal hobbi kita aja. Nah kalau hobi kita begitu, lalu ada orang yang bilang, hobi saya adalah menembak burung, hobi saya adalah menebang pohon. Jadi mesti ada satu rational fondation, yang bisa menghasilkan prinsip tentang, mengapa? pohon punya hak untuk membela diri?
- Moral Standing of Trees misalnya
- Legal Standing of Burung Dara
Sehingga di dalam dunia fikiran, itu menimbulkan berbagai macam kontroversi. Jadi ada kontroversi baru disitu. Nah sebelum kita pergi disitu, coba satu2 kasih saya review tentang semacam sinopsis, apa yang sudah dipelajari sesi sebelumnya. Misalnya ada problem disitu, ada kata kunci, ada konsep, sehingga saya bisa hemat uraian, gak mengulang-ulang. Sehingga kita di akhir kuliah ini sama2 berupaya untuk menyusun semacam ethics, environment ethics versi kita, berdasarkan pengetahuan kita.
Cuplikan Video bisa kalian saksikan disini, temen2.
Kalau soal pengatahuan yang standard, anda bisa baca semua buku disitu. Tapi feminisme dan lingkungan itu menuntut semacam standpoint. Semacam keterlibatan yang berasal dari pengalaman kita, bukan berdasarkan pengetahuan kita. Jadi itu bedanya belajar tentang etika lingkungan dan menghasilkan etika lingkungan. KITA bisa belajar etika lingkungan, bisa dapat A di dalam kelas. TETAPI kalau dia tidak berbasis pada situated knowledge, pada hal concrete yang kita alami sehari hari, maka kita cuman disebut sebagai Ahli Etika Lingkungan. Bukan ecofeminist. Seorang Ecofeminist, dia tumbuh dari kekuatan argumen yang berbasis pada pengalaman yang basah, pengalaman yang betul2 touch the reality, down to earth.
Cuplikan Video bisa kalian saksikan disini, temen2.
Jadi kita tidak berbicara tentang etika lingkungan dalam pengertian teori mutakhir. Kalau tentang itu akses aja di Internet. Tapi bukan itu yang dimaksudkan oleh jurnal perempuan. Tetapi kita bisa nulis jurnal perempuan tentang itu. Tapi menghasilkan seorang laki2 yang ingin menyebut dirinya iam a male ecofeminist, artinya dia pernah mengalami suatu situasi dramatis, tentang kehidupan ketidak adilan. Dan bisa jadi ketidakadilan itu basisnya adalah eksploitasi lingkungan.
Dan mungkin juga seorang perempuan menyebut dirinya
iam an ecofeminist, bukan berarti dia hafal atau baca
the god of small things Arundati Roy, bukan begitu
Tetapi dia pernah mengalami itu sehingga berbekas pada sistem pengetahuan dia itu. Oke ya.. jadi kita berbicara itu. Jadi lebih baik kita diskusi panjang, jadi saya semacam fasilitator untuk menguji, apakah kita sanggup untuk carring burden of being ecofeminist.
Cuplikan Video bisa kalian saksikan disini, temen2.
Ada mungkin yang merasa.. itu mah, feminist literatur aja, karena dibrief oleh pengetahuan maka dia jadi ecofeminist. Ada kritik semacam itu, coba kita uji satu2 jalan fikiranya.
Ada yang menganggap bahwa,
ah orang kota di ecofeminist itu karena semacam caper, gitu.
Sama seperti di Jakarta, sekarang ada semacam hobi baru. Bahwa CEO itu, eksmud, itu kalau weekend dia pergi ke SENTUL, naik sepeda disitu. Dianggap ini, wah... ini sudah peduli lingkungan. Tapi kalau anda lihat, sepeda itu sampai di sentul, dibawa oleh mobil mewah. Artinya sepeda itu juga pakai bensin buat sampai ke sentul. Dia gak kayuh darisini...
Cuplikan Video bisa kalian saksikan disini, temen2.
Iya bersepedah, you bawa polusi baru ke tempat saya, karena you bawa mobil yang gede2 itu untuk ngangkut sepedanya itu. Dan sepedanya 50juta, dari karbon itu sepedanya. Dan untuk produksi satu sepedah, itu membutuhkan energi lebih untuk memproduksi dua mobil. Kalau sepedanya mewah, itu produksi di pabrik itu, pabriknya ekslusif. Kalau kita produksi mobil, sudah ada standardnya itu.
Jadi semacam forthizm, satu kali bikin langsung jadi. Kalau bikin sepeda yang ekslusif, artinya ada mesin baru dibikin, artinya ada industri baru, artinya ada polusi baru untuk menghasilkan sepeda. Jadi kita lihat conectedness dari hal itu, menganggap bahwa saya akan mengayuh sepeda, untuk memelihara lingkungan. PADAHAL untuk menghasilkan sepeda semahal itu diperlukan polusi yang lebih besar daripada menghasilkan satu bis kota. Bisa nangkap ya? logicnya. SELALU ada underlaying ideas, kalau kita gak periksa, kita bisa sama2 kagum itu. Supaya kita diskusinya tajem, iam playing devil advocated.
Siklus Air Tanah 40Tahun
Jadi misalnya anda minum air PAM (tidak minum air kemasan). Kita bisa bikin semacam political analysis disitu, AIR PAM itu diproduksi untuk publik.
Di belakang itu ada perjanjian antara.... dengan perusahaan2 prancis.
Perusahaan Prancis, juga memproduksi A*** disana.
Jadi mungkin aja, kita gak minum air kemasan disini, tapi kita minum value added dari perusahaan prancis yang memproduksi A*** yang itu dia klaim datang dari sumber yang paling murni di dalam pegunungan prancis. KARENA dia suka klaim, ini umur dari air saya itu, di prancis itu, kira2 sudah 400tahun. Jadi air tanah yang tersimpan 400tahun. TERUS kita bilang, air tanah yang 400tahun tidak boleh dieksploitasi. TAPI kalau ambil tanah yang usianya sudah 400tahun, artinya kita minum mineral yang adalah bekuan dari darah nenek moyang, yang tulangnya jadi mineral disitu, setelah 400tahun misalnya. Kenapa gak boleh begitu, karena siklus air itu 40tahun, jadi 10kali siklus air yang kita minum darisitu.
AIR yang kita minum disini, yang dia sebut A*** misalnya disini. Buat jadi spring, dia perlu waktu 40tahun siklusnya itu. Jadi bukan yang hari ini.... kan biasanya dibikin teori, airnya kemudian menguap, kemudian kondensasi, kemudian turun hujan... Enggak demikian, (air tanah) yang kita minum itu adalah hujan 40tahun lalu. Bukan hujan tadi sore, apalagi hujan buatan yang dibuat dengan garam -dapur. JADI bicara tentang evironment, di dalamnya itu variablenya itu interconnectedness. Begitu banyak variable, sehingga kita gak bisa klaim sesuatu, tanpa kita deepening, tanpa kita ikut tenggelam di dalam problem itu dulu. Oke ya.... Saya kasih kontrasnya, saya kasih contradictari ideasnya.
Cuplikan Video bisa kalian saksikan disini, temen2.
Produk Alternatif
Distro2 itu tadinya indie, independent design, segala macam. Akhirnya kalah oleh, mass production, itu ide bagus juga. Kadangkala ethics untuk revolusi, untuk memberontak, untuk berdaulat, dia kemudian masuk di dalam wilayah yang sebetulnya bisa kita deteksi sejak awal, bahwa pada tingkat tertentu revolusi akan memakan anaknya sendiri.
Dulu kan satu jalan TEBET itu produk alternatif semua kan?
- itu karena hobby,
- atau semacam ada dignity (harga diri)
- dan conviction (kepercayaan) yang kuat dari seseorang sehingga mau fights,
melawan komunitas.
Disitu kita lihat, oh ternyata anda gagal karena anda cuma ingin mengambil keuntungan dari Isu EKOLOGI. Kan ada yang ya... begitu
Cuplikan Video bisa kalian saksikan disini, temen2.
Analisa dalam, seorang Ecofeminist
Sama dengan yang dialami oleh Vandana Shifa misalnya, soal protect agriculture, macem2. Menjadi seorang ecofeminist, membutuhkan analisa yang dalem, tajem menghitung konsekuensi. BUKAN sekedar menjadi ecofeminist yang fasionable. Fashionist-Style, Ecofeminist yang hanya sekedar (seni). JADI logic dari itu adalah waktu kita pindah dari antropocentrisme, pada biocentrisme seluruh ethics kita itu berubah.
- TERMASUK cara kita memberi harga,
- termasuk cara kita memilih design, segala macem.
Selama kita ragu2 untuk hijrah, dari antropocentrisme ke biocentrisme maka akan terkena hukum seperti tadi. Seolah2 ingin berdaulat, tapi baru dua langkah sudah jalan pulang cari mama. Saya bilang cari mama, bukan cari ibu. Cari mama, karena papa lagi di rumah sakit.
Cuplikan Video bisa kalian saksikan disini, temen2.
Diskusi untuk menemukan semacam underlying assumtion dari product community, hubungan comunity
- dengan keadilan,
- ecological justice, environmental justice,
itu baru bisa kita ucapkan kalau kita sudah tiba di dasar persoalan, itu soalnya. Terimaksih anda sudah mengingatkan Problem yang selalu ada di headline, mencari semacam sphere of possibilities, dimana policy tentang KEADILAN itu bisa sejalan dengan ethics baru tentang ecological justice. Oke saya akan anggap itu sebagai problem, untuk mencari semacam cross-cut ideas, antara the economy, and the ecology.
Cuplikan Video bisa kalian saksikan disini, temen2.
Kita gak akan coba mencari win win solution sebelum kita berhasil detecting the foulty argument. Jadi kita bisa bilang, oke itu win win solution, setelah kita kuras semua seluruh argumen palsu di dalam debat itu.
Debat antara
- keinginan manusia untuk mengatur alam,
- dan inherent logics dari alam.
Alam telah menulis hukumnya sendiri, tetapi kita yang sebutin sebetulnya. Karena kita musti assume, supaya kita bisa pergi pada semacam apresiasi. Tapi semakin kita melakukan apresiasi, kita sekaligus sebetulnya melakukan depresiasi. Kita apresiasi, supaya alam itu jangan terlalu radikal, ketika memberontak kepada manusia. Kira2 itulah pikiranya, tetapi nanti kita ulas itu.
Cuplikan Video bisa kalian saksikan disini, temen2.
Di Ketinggian Himalaya
.
Sepuluh hari lalu, saya masih di ketinggian 6000meter di himalaya. Untuk tiba di himalaya kita mesti lewati suatu kampung namanya langtang. Tahun 2015, terjadi peristiwa yang paling diingat oleh masyarakat NEPAL yaitu karena ada gempa bumi, es nya longsor. Maka langtang itu rata, di bawah ketebalan es.
Hilang disitu
- 900orang nepalis,
- dan 90 orang asing, termasuk diantaranya 3 Warga negara Indonesia.
Cuplikan Video bisa kalian saksikan disini, temen2.
Masyarakat nepal belum boleh menyanyi sesuatu yang riang gembira, karena belum tiga tahun. Itu terjadi pada tahun 2015. Kita anggap itu sebagai DISASTER, orang nepal juga anggap itu alam kok marah sekali? Tapi kemudian mereka melihat bahwa setelah gempa dahsyat itu seluruh pohon besar tumbang di pegunungan itu.
300 Puncak di HIMALAYA
.
Asal anda tahu, nepal itu 80% gunung isinya tu. Dan dari pegunungan himalaya itu (kebanyakan) orang tahu hanya EVEREST aja. (Padahal) ada 300 puncak gunung. Bagi mereka gunung itu disebut gunung kalau di atas 5000 meter. Kalau (cuman) kayak gunung gede yang 2000-3000 Mdpl, itu dianggap BUKIT aja tu. Dianggap bukit aja, atau Hill disebutnya.
Cuplikan Video bisa kalian saksikan disini, temen2.
Jadi pohon itu semua hancur, dan itu justru dianggap rejeki, karena dia tidak perlu tebang lagi untuk bangunan.
Bencana alam justru menguntungkan kondisi antropologis. Karena mereka gak perlu bikin desa baru. Jadi kita menyebut sebagai alam telah menulis hukumnya sendiri.
- Bagi mereka yang kena musibah dianggap sebagai alam telah menghukumnya.
- Bagi mereka yang ingin membangun ulang, alam telah memberi mereka kayu2 baru.
Jadi selalu ada dual assumption di dalam suatu Peristiwa.
Cuplikan Video bisa kalian saksikan disini, temen2.
Karena kemudian alam itu rusak, (termasuk) jaringan listrik macem2, maka pemerintah supply solar sell. Dengan maksud supaya ada kehidupan yang tidak tergantung pada energi yang exessisve. Tapi saya perhatikan akhirnya solar sell itu disewakan untuk mencharge wisatawan disitu yang itu adalah orang asing. Jadi anda lihat, solar sell itu untuk kehidupan komunitas, tapi akhirnya menjadi komoditas orang asing yang membawa hape misalnya. Jadi tetep ada komoditifikasi disitu. Apa artinya? dia mengundang lebih banyak produkdi handphone. Kalau gak ada solar cell ngapain bawa2 handphone? Jadi ada komodifikasi disitu. Jadi KOmodifikasi itu bisa masuk di wilayah local wisdom.
Dialektika
.
Dialektika itu, kalau konsep itu diaktifkan, anda tidak usah TAFSIRI. Sebab dialektika bekerja menurut inner logicnya, bukan karena keinginan kita (penafsir). Yang jadi problem, orang suka salah dan sangat sering salah, menganggap antithesis itu datang dari luar. Lho tidak begitu, cara berfikir Hegel itu,
Thesis itu mengeluarkan antithesisnya sendiri.
Jadi dia diuji berdasarkan internal konsistensi, bukan ada thesis kemudian TIMBUL anti thesis dari luar yang melawan. Enggak (demikian), thesis di dalam dirinya, selalu menghasilkan lawanya sendiri, supaya dia minta diuji. Akademisi itu, hal yang paling sederhana di dalam konsep itu...
Asing itu adalah anti thesis dari nasional.
Lho nggak.. Nasional itu menimbulkan kontradiksi (Anti Thesis) tersendiri. Karena kebodohan di dalam negeri sendiri, bukan karena anti thesis asing. Itu konsep dialektik
Kalau hutan terbakar, di kalimantan... kalau saya seorang radikal ekologi, hutan yang terbakar di kalimantan itu sama seperti korek api, di dalam mata ekologi. Itu kecil banget. Jadi maunya?? seluruh bumi hangus pun, itu kecil banget. Karena ekologi bukan cuma bumi, ada ribuan sistem tata surya. Dari sudut pandang radikal ekologi. KENAPA? bumi ini mesti hancur, supaya ada pertumbuhan baru itu namanya dialektik. Bumi akan menghancurkan dirinya sendiri, supaya dia memperoleh sintesis. TETAPI kita gak mau masuk di dalam kekonyolan berfikir semacam itu kan? Karena itu artinya, kita mendesain sesuatu, dengan akibat diri kita membatalkan justice,
Standpoint
Standpoint pertama, saya bersikap kritis, karena saya tahu logic dari ekologi.
Komentar
Posting Komentar