Etika dan Pengetahuan
.
Etika itu terkait dengan manusia bagaimana dia berinteraksi dengan orang lain. Dan bagaimana dia bisa mensyukuri kehidupanya sendiri, secara pribadi. Pengetahuan agar bisa menjalani hidup agar bisa menjadi lebih baik. Pengetahuan itu tujuanya agar kita bisa hidup dan menyelesaikan masalah2 yang ada.
Perbedaan Etika, Moral, dan Akhlaq merupakan perbedaan dalam istilah
kebudayaan saja. Ada beberapa definisi yang membedakan antara Etika,
Moral, dan Akhlaq.
- Akhlaq itu basicnya Al Quran dan Sunnah
- Etika itu basicnya hati nurani
- Moral itu basicnya masyarakat dan sebagainya
Tetapi itu sebenarnya, adalah definisi2 yang dibuat manusia untuk membuat identifikasi. Kalau misalkan kita kembali ke esensi, kalau misalkan kita mau berfikir lebih independent, kan kita lepaskan dulu dari pola bentuk identifikasi dan sebagainya. Kita ambil aja dulu esensinya, lalu kita definisikan sendiri sesuai dengan selera kita. Kan biar enaknya seperti itu.
Kenapa tidak akhlaqul karimah, kenapa harus etika. Ya sama... itu hanya perbedaan bahasa perbedaan budaya yang menelurkanya seperti itu. Kalau misalnya kita mengambil landasan2 paling esensialnya, ya sama saja. Etika itu ilmu untuk berbuat baik atau ilmu tentang berfikir baik. Sedangkan akhlaqul karimah, itu apa? akhlaqul karimah itu sama, kemudian ada para mufassir, ulama belakangan yang menetapkan demikian. Padahal seandainya gak ada ulama fiqih, gak ada ulama yang mendefinisikan tentang itu, maka kembali ke bahasa arabnya kan? makna tentang akhlaq itu. (saya tidak tahu, karena saya bukan orang arab pada waktu itu). Pada waktu itu orang arab itu memahami etika, sebagai akhlaq. DEFINISI2 belakangan, itu definisi manusia belakangan.
Misi Guru dan Peran Guru
.
Misi dari guru itu sebenarnya adalah membuat generasi yang lebih baik daripada generasi si guru itu. Misi yang ditanamkan setiap guru (demikian). Dan ini juga menjadikan si orang tua melakukan pembebanan kepada anak, oleh karenanya orang tua biasanya.
Kamu jangan seperti bapak... jangan seperti ibuk dulu.
Jadi sebenarnya itu konstruksi berfikir yang salah, yaitu orang tua membebankan apa yang gagal dilakukan bapak. Tetapi sebenarnya dalam konteks itu orang tua itu menjadi guru. Di masa depan itu berhadapan dengan masalah yang berbeda dengan pola pikir yang sepenuhnya berbeda, maka itu minimal banget harus lebih unggul dari generasi sebelumnya. Guru itu status, dan dia berperan. Ada status dan ada peran.
Kenapa seseorang memiliki status, karena dia memiliki peranan. Kenapa seseorang berperan seperti itu? karena seseorang memiliki status itu. STATUS guru itu kemudian dia berperan untuk mendidik generasi itu lebih hebat, lebih cerdas daripada minimal generasi dirinya.
Guru itu Jembatan Zaman
.
Nah peradaban barat itu maju gara2 itu. Nah di zaman pertengahan itu, peradaban arab itu maju gara2 itu. Salah satu yang jadi masalah besar, kalau misalkan kita menghubungkan dengan relevansi hari ini, Zaman sekarang itu banyak orang2 yang justru mengajak orang kembali ke masa lalu dengan etika fikiran kebudayaan gagasan hasil dari masa lalu, berdasarkan capaian masa lalu. Misalkan Ekonomi zaman sekarang, itu adalah ekonomi yang sangat berbeda dengan Ekonomi zaman abad pertengahan. Kalau misalkan dengan ekonomi zaman sekarang yang sanat kompleks, orang2 justru mengatakan, tapi orang2 zaman dulu kan mengatakan seperti ini. Kaidah2 orang zaman dulu kan seperti ini, dan mereka lebih cerdas dan seterusnya, dan seterusnya. Nah Menjadi guru itu mendapatkan tantangan yang sangat besar, ketika ada sekelompok orang yang terlalu menjadi masa lalu. Berusaha untuk Revivalis masa lalu. Jadi ide2 itu ambil, tapi produknya jangan. Misi guru itu seperti itu. Makanya guru itu disebut sebagai jembatan zaman, kalau dia itu jadi guru tetapi tidak menjadi jembatan zaman, dia malah mengajarkan materi yang sudah berlalu, itu statusnya guru, tetapi dia telah menghianati peranya sebagai guru.
Jasa seorang Guru
.
Apa2 dimulai dari kersahan. Pertanyaan itu sebenarnya manifestasi kegelisahan, ketidak tercapainya (realitas) dari tujuan. Jadi kondisinya adalah jadi saya berpikir secara pribadi, menghadapi dilema besar, untuk menjalani profesi saya. Itu pribadinya, dan misalnya kalau kita melihat kepada masyarakat....(mereka menginginkan pendidikan yang baik untuk anak2nya). Dilema seorang guru, saya ngajar untuk dibayar, saya ngajar untuk cari nafkah. Jadi guru itu ada di puncak kasta, di puncak kasta itu dia sama sekali gak dibayar, dia malah yang bayar orang. Karena dia ada di puncak, Gak ada orang yang membayar ilmu pengetahuan, tidak ada orang yang bisa membayar jembatan yang mengantarkan peradaban, dari zaman ke zaman yang lain, itu kenyataanya. TAPI kenyataanya guru menjadi profesi, yang dibayar per jam sekian. Kalau guru memang diarahkanya seperti itu, yaudah gak papa. Kalau guru memang maunya seperti itu, tidak usah disebut lagi bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Berarti guru seperti itu, sama seperti dokter, sama seperti insinyur, yang dia punya pekerjaan, yang dia punya jasa, tetapi jasanya terukur, ternilai (ada nilainya). Jadi disitu saja ada dilema status, ada dilema peran. Nah sekali lagi saya tidak menyalahkan hal seperti itu. TAPI konsekuensinya pun juga harus ditanggung, kalau gurunya itu dibayar, berarti si guru itu juga harus siap, bahwa guru menyatakan bahwa bukan lagi pahlawan tanpa tanda jasa dan lain sebagainya.
Tapi kalau misalkan mengambil peran, bahwa guru itu merupakan jembatan untuk masa depan. Berarti dia tak ternilai.
Kalau misalkan saya statusnya sebagai guru yang dibayar. Nah disitu muncul dilema lagi. Dilemanya itu adalah Si guru itu ternyata tidak dibayar sesuai apa yang diperjuangkan. Jadi gini nih ya, karena guru2 itu berbayar di Indonesia, maka si Guru2 itu sekarang tidak bernilai. Kenapa tidak bernilai? karena gini, punten ya.. ini mah pengalaman pribadi. Sekolah2 itu bermunculan dimana2, karena banyak diantaranya yang bisnis. Nah karena itu guru itu direkrut, apakah guru itu profesional? tidak. Yang penting guru itu ngajar. Karena guru itu di Indonesia itu adalah salah satu profesi yang kompetensinya paling tidak dinilai. Misalnya gini, kalau ada pilot, dia jadi guru, dia diijinkan. Dokter jadi guru itu sangat diijinkan. Tapi guru jadi dokter? gak bisa. Guru jadi pilot? gak bisa. Karena apa? kompetensinya paling tidak dinilai. Jadi guru itu kompetensinya adalah menyampaikan pesan2 peradaban. NAH KEMAMPUAN dia dalam menyampaikan pesan2 itu adalah salah satu kompetensi seorang guru. Sekarang guru2 itu dinilai kompetensinya itu apa? kalau dia bikin administrasi mengajar, kemudian dikirimkan. Jadi kita itu menghadapi banyak sekali dilema.
PERTAMA guru itu statusnya apa, kalaupun harus dibayar, harus profesional oke, tapi kenapa dibayar dengan kompetensi yang sangat tidak jelas seperti itu. Sehingga apa? karena si guru2 itu tidak pernah dinilai siapapun bisa jadi guru. Saya pernah jadi kepala sekolah, saya pernah jadi wakasek kurikulum, saya pernah jadi wakasek kesiswaan. Saya pernah jadi apa2, dalam status jadi guru. 14.11
Komentar
Posting Komentar