Langsung ke konten utama

Agama dijadikan untuk memenuhi EGO | Catatan Guru Gembul

 

Agama itu harus jadi inspirasi dari politik. Agama itu, nilai2 agama itu harus menjadi inspirasi dari kegiatan2 politik. TETAPI kalau agama dijadikan alat politik, sekuler lebih baik. Karena sekuler gak bawa2 agama. Saya berharap para politisi, jaga moral, jaga agama. Silahkan jaga agama masing2 dari orang yang beragama itu, agar dirinya tidak menjadikan agamanya sebagai "keset". 

 

Yang abstrak itu, biasanya akan dikalahkan dengan yang kongkrit. Kalau misalkan kita sekarang, kita itu ditakut2in dengan neraka. Dan kalau misalkan kita disuguhi dengan dosa dan dosanya itu enak, mungkin kita akan tetap melakukan dosa itu enak, walaupun takut kepada neraka, karena abstrak. 

 

Jangan menggunakan agama untuk hal2 yang buruk itu akan diabaikan dulu, karena itu sesuatu yang abstrak. Dan itu bisa diinterpretasikan, dan itu bisa jadi pembelaan dirinya, mereka akan cari yang ini. Gak papa nanti demi kebaikan agama... pikiranya adalah yang seperti itu. Pada akhirnya agama akan dijadikan alat untuk memenuhi ego setiap orang. Menjadi "keset". Manusia itu makhluk komunal, yang baru bisa mencapai peradaban itu adalah ketika dia mampu mengakumulasikan pengetahuanya dengan orang lain. Kalau akumulasi itu tidak terjadi, maka bangsa itu tetap jadi biadab. Bisa beradab itu ketika sudah menyatu. MAKANYA Ibnu Rusyd itu sampai menyebut, manusia itu akan terhubung satu sama lain, yang akhirnya memunculkan  otak universal. BUKANKAH kita juga berdasarkan musyarawarah untuk mufakat? 

 

Agama itu adalah agama formalitas untuk semua hal. NILAI formalitas kan? waktu sekolah. Politik itu demokratis bukan? bukan. Demokrasi itu adalah misalkan gini. Demokrasi itu kita memilih siapa wakil kita untuk mengajukan visi kita. Itu demokrasi... Di Indonesia itu adalah orang besar, merekayasa kita untuk memilihnya. Jadi bukan kita memilih pemimpinya, tetapi orang besar itu merekayasa kita untuk memilih mereka. Dan karena itu, maka demokrasinya ya formalitas aja. Aristoteles itu nolak demokrasi, saya juga nolak demokrasi sebenernya. Demokrasi itu hanya cocok untuk bangsa2 yang sudah mapan. Cocok bukan berarti bagus ya, cocok. Bangsa2 kita itu lebih cocok dengan sesuatu yang lebih memaksa. Kalau kesadaran itu belum terbentuk, maka kita harus memaksa kesadaran itu menjadi ada. Kalau orang2 belum sadar naik motor pakai helm itu penting, maka kita harus memaksa.

 

Orang Indonesia ke Singapura gak berani buang puntung rokok. Aturan yang kuat itu lebih... ada banyak sisi negatif, tetapi kadang2 tangan besi itu dibutuhkan. Pada banyak hal kita setuju bahwa kita membutuhkan orang yang tangan besi. Jadi kalau saya ditanya, kalau saya jadi presiden apa yang harus dilakukan? saya bilang bahwa ijinkan saya untuk bisa melakukan tindakan yang lebih sewenang2. Sampai negaranya baik dan benar, baru demokrasi.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banjirnya Ilmu Pengetahuan | Catatan Guru Gembul

  Disklaimer Ini adalah transkrip dari youtube perbincangan Helmi Yahya dengan Guru Gembul. Jadi kalau mau melihat lebih lengkap, bisa langsung saja ke sumber perbincanganya.    Zaman Media . Sekarang itu zaman media. Jadi kalau misalnya (ada pertanyaan) Pengetahuanya darimana? Itu sebenarnya pertanyaan kurang relevan untuk zaman sekarang. Karena kita (untuk) mengetahui / akses untuk mendapatkan informasi itu banyak sekali kan? (Untuk Zaman) Sekarang pertanyaan yang paling utama BUKAN Darimana kalian mendapatkan Pengetahuan?  Tetapi darimana? (kita mengetahui bahwa) Pengetahuan itu BENAR, Pengetahuan itu bisa DIVERIFIKASI.   Kurasi menjadi penting?  kegiatan mengelola benda-benda dalam ekshibisi di museum atau galeri Iya itu penting. Kan kalau misalkan dalam metodologi ilmu itu, setelah kita mengumpulkan sebanyak mungkin sumber, kita mampu mengkritik sumber itu. Nah kita sekarang, di zaman digital, di zaman cyber, di zaman yang entah namanya apa ini? yang ...

Pendidikan Anak Sejak Dini - dr Ryu Hasan

Mental Aritmatika . Di tahun 90an akhir atau awal 2000an itu, ada les "mental aritmatika", anaknya dilesin semua. Lha Kamu itu pingin anakmu jadi kalkulator atau gimana sih?  Sehebat-hebatnya anak itu bisa ngitung, masih kalah cepet sama kalkulator penjual tahu. Lho ngapain? daripada gitu, ya bekali aja anakmu dengan kalkulator.  Terus ada lagi "super brain" anak diajari ngapalin. Lha kenapa sih? gak gitu lah. Memangnya anakmu jadi HPU? kan gak demikian kan? Anakmu jadi HPU, ibukota ini dimana, ini dimana?  lho ngapain? gitu lho, wong nanti kerjanya di bank, gak perlu ngafalin HPU, ngapain?  Raja Singosari pertama, lho gak penting. Gak penting banget gitu lho, Raja Singosari yang terkenal, ngapain? dihafalin? Nanti kerjanya di Bank, jadi teller Bank.  In the late 90s or early 2000s, there was mental arithmetic tutoring. Parents were flocking to enroll their kids. Do you really want your child to become a calculator or something? As quickly as the child can calc...

Nama - Nama Islami | Catatan Guru Gembul 255

    Nama itu tidak hanya menunjukkan cita2 orang tua, kepada anak2 yang diberinya nama. Tetapi nama itu adalah bagian dari unsur kebudayaan, yang bisa membuat kita meneropong, apa yang terjadi pada masyarakat itu. Apakah itu sintesis antar unsur2 kebudayaan, apakah bahkan mungkin agresi kebudayaan lain pada masyarakat setempat.     Joel C Kuipers Telah mengumpulkan 3.7juta nama dalam satu abad di Indonesia yang menjadi bukti adanya pergeseran nama JAWA merosot, tajam tergantikan nama2 arab, atau campuran ARAB   Sejak kemunculan pertama kalinya, masyarakat arab itu sudah menghadapi masalah yang sangat pelik. Yaitu mana yang merupakan budaya arab, dan mana yang merupakan nilai2 dasar islam. Pemisahan ini memang faktanya sulit untuk dilakukan, karena memang faktanya islam berkembang dan lahir di tradisi arab jahiliyah, pada waktu itu . Dan bagaimanapun ada unsur2 budaya arab yang bisa masuk ke nilai2 islam. Nah tetapi pemisahan antara nilai islam dan budaya ar...