Kanker Usus
.
Kemarin lalu, ada teman dari temanya saya (A), itu mengungkapkan isi HATI nya. Dia katakan bahwa
(A) Saya jangan2 terkena Kanker Usus.
- Soalnya berat badan saya turun drastis, tanpa saya ketahui apa sebabnya,
- dan kemudian BAB saya lebih sering terjadi daripada biasanya..
Hmmm gawat nih, saya harus lapor dulu, saya harus ngobrol dulu sama dokter, dia katakan seperti itu.
LALU ada teman dari temanya teman saya itu (B),
(B) Woee.. gak usah ke dokter juga, ngapain, lhu tu positif thinking saja, gejala kanker itu gak ada di kamu, pokoknya kamu baik2 saja. Positif thinking gak usah mikir yang berlebihan, gak usah OVT yang penting kamu jalani hidup sebaik2nya. Kayak gitu lah ya..
Metodologi terbawah:
Menyangkal kemungkinan Realitas (1)
.
Nah pikiran dari (B) itu adalah pikiran yang ada di level terbawah dalam berpengetahuan. KENAPA seperti itu? karena dia berusaha untuk menyangkal kemungkinan realitas hanya untuk menenangkan dirinya saja. KAN beritanya itu buruk, yaitu kanker usus, dan karena itu untuk menenangkan dirinya alih2 untuk mencari solusi, dia mencoba untuk menyangkal tentang indikasi semua sakit itu. NAH.. ini adalah proses berpikir yang paling rendah, dan kita banyak sekali menemukan orang2 yang berpikiran seperti ini atau momen2 dimana dia juga berpikir seperti ini. MISALKAN ada orang, ada pemimpin perusahaan yang mengatakan kepada para pegawainya, ayo semangat berjuang, ayo semangat bekerja, walaupun statistik kita menunjukkan kita akan kalah, walaupun secara rasional kita tidak mungkin menang, tapi siapa yang tahu, kan rezeki bukan di tangan kita. Jadi ayo berusaha keras, ayo berjuang.. gitu ya.. itu si bos berusaha untuk menenangkan dirinya dan menenangkan para pegawainya, dengan menyangkal realitas atau menyangkal kemungkinan atas realitas. ATAU misalkan ada juga kepala sekolah yang mengatakan, ya gak papa, sekolah kita memang sekolah yang tertinggal, buruk, kotor dan lain sebagainya, yang paling penting kita ini kan berjuang untuk tuhan, kita ini berjuang untuk akhirat, jadi kita akan mendapatkan pembalasan yang lebih baik disana. DARIPADA sekolah yang lain itu, itu bagus2 apa tapi semuanya kan ilmu duniawi, gitu. Nah itu sebenarnya penyangkalan terhadap realitas demi menenangkan dirinya. Nah di episode ini, kita bukan hanya menjelaskan tentang itu, itu adalah level terbawah. Kita akan menjelaskan tentang level2 orang berpikir, atau level2 orang berpengetahuan. Ada enam level, yang kita akan bahas satu demi satu. Ini adalah pelengkap dari episode sebelumnya tentang metodologi berpikir dan metodologi berpengetahuan. Jadi ayo kita mulai....
Metodologi berpengetahuan : Intuitif (2)
.
Metode Berpengetahuan terbawah, setelah yang tadi itu adalah mode berpikir atau mode berpengetahuan secara intuitif. Apa itu? mengandalkan PERASAAN. Kan dia sendiri tidak bisa mengetahui apakah perasaanya itu benar atau salah, dan atau perasaanya itu memang bener2 merasa seperti itu.
Metode intuisi berarti kita mengandalkan kualitas mental, emosi dan insting untuk membimbing kita. Alih2 memeriksa fakta atau menggunakan pemikiran rasional, intuisi melibatkan mempercayai apa yang dirasa benar. Paul C Price, Methods of Knowing
Orang2 pasti pernah mengalami kondisi yang seperti ini, dimana dia tidak yakin apa yang terjadi, kemudian dia menebak2 dengan perasaanya saja. Saya rasa jawaban ini yang benar, tapi saya pikir ginilah, saya yakin gitulah.. kayak gitu. Darimana keyakinanya? nah itu mah perasaan aja. INi kretek hatinya seperti itu. Nah mode berpengetahuan seperti ini itu sangat DANGKAL. Tetapi bukan berarti itu salah, tetapi ini adalah masalah tebak2an. Sama seperti baraya ketika ujian dikasih soal PILIHAN GANDA (PG). Kan banyak diantara baraya yang gagal nyontek, kemudian... ini yang mana ya? yang paling benernya, emmmmm.. yang paling mirip aja, yang paling deket aja. Atau kayaknya dilihat lagi, oh kayaknya yang seperti ini. Itu adalah mode berpikir level kedua, sekali lagi ini tidak terkait dengan benar dan salah, tetapi ini memang spekulasinya terlalu besar. Ada bukunya yang terkait dengan ini, ya silahkan baca saja kalau mau,
BLINK, kemampuan berpikir tanpa berpikir
MALCOM GLADWELL
Tapi ini adalah metode berpengetahuan yang paling dangkal. Dan kalau ini diteruskan dalam argumentasi, dalam mengambil sebuah kesimpulan, mengambil sebuah keputusan, maka ini bisa menjadi sangat fatal. Ciri2 dari orang yang menggunakan metode berpikir intuitif seperti ini dia sering mengatakan seolah2. Anda itu seolah2 tahu ini ya... padahal enggak. Orang yang berkata seperti itu, itu artinya orang yang menggunakan metode berpikir intuitif. Menggunakan metode berpengetahuan dengan cara berprasangka. Dia gak tahu, dia tahu atau enggak, tetapi langsung menyimpulkan anda sok tahu sekali, seperti ini. Ah dasar kamu bau sorga, sok suci lho... nah itu membela diri dengan cara menyampaikan persangkaan2 yang seperti itu. Atau misalkan, ah kamu mah bikin gini, bikin gitu, ujung2nya duit, motif kamu kan cuma nyari duit? Nah yang seperti itu, dia kan gak pernah tahu motif orang di dalam hatinya seperti apa? tetapi dia berprasangka seperti itu karena menurut perasaanya saja, itu benar. Nah sekali lagi, benar dan salahnya itu urusan yang lain, tetapi adalah mode berpengetahuan yang dangkal. Setelah yang sebelum intro tadi.
METODE BERPIKIR : Otoritatif (3)
.
Kemudian yang ketiga dari bawah ini adalah sesuatu yang lebih baik. TAPI belum juga sempurna dan paling banyak digunakan oleh orang2 yang level kitalah. Bukan level orang yang cupu banget, bodoh banget, tapi kebanyakan kita. Yaitu mode berpengetahuan otoritatif. Jadi kita itu menggantungkan pengetahuan itu pada satu pihak yang kita anggap tahu. Jadi.... menurut pak reinald kasali, orang itu yang bisa mendrive dirinya sendiri itu hanya dua persen. Nah gitu ya, itu berarti otoritatif. Kita itu menyandangkan benar dan salah itu pada sosok yang namanya pak reinald kasali. Kenapa kita memberikan otoritas itu kepada beliau? karena kita percaya bahwa beliau itu lebih ahli di bidang itu, atau beliau lebih berpengetahuan di bidang itu dan sebagainya. Atau misalkan dikutip dari IMAM anu... mengatakan bahwa ini gini gini gini... Nah ini adalah mode berpengetahuan OTORITATIF. Ini adalah metode berpikir nomer tiga dari bawah, jadi sudah lebih baik, daripada sebelumnya.
Sebenarnya sebagian besar pengetahuan kita yang kita peroleh adalah melalui otoritas, karena kita tidak punya banyak waktu untuk meneliti secara mandiri setiap pengetahuan. Paul C. Price Methods Of Knowing
Nah apa masalahnya? masalahnya adalah moder otoritatif itu harus didasarkan pada rasionalisme. Kalau tidak, bisa saja kita itu memberikan otoritas kepada orang2 yang salah. Misalkan hanya karena satu orang tertentu misalkan pakai dasi, pakai kumis, maka kita anggap dia adalah orang yang pintar. Atau misalkan ada Jack Maa... Jack Maa itu memang pinter sebagai pengusaha, tetapi kemudian quotesnya kita ambil untuk menjalani kehidupan sehari - hari. Padahal kan bukan untuk itu, Jack Maa otoritatif, sebagai seorang pengusaha, karena dia mulai dari level terendah, Sampai jadi salah satu orang paling kaya di China. Di
Dunia ini, tidak akan ada lembaga yang memiliki otoritas kebenaran pada semua tema pengetahuan. TAPI setidaknya menempatkan pengetahuan pada pihak tertentu akan mengurangi atau bahkan menghilangkan keraguan kita. Charless Sanders Pierce, Collected Papers.
Ilmu tentang usahanya itu baik, tetapi untuk kehidupan dan sebagainya ya bisa saja kita menggunakan orang dengan otoritas yang lain. Nah itu level ketiga...
Metode Berpikir : RASIONALISME (4)
.
Level ini adalah level yang lebih tinggi lagi, dan hanya orang2 tertentu saja yang mau melakukanya. Yaitu mode berpengetahuan dengan RASIONALISME. Apa itu Rasionalisme?
Pemikiran Rasionalisme itu didefinisikan sebagai penggunaan nalar, kapasitas untuk memahami hal2, dan penggunaan logika untuk menetapkan dan memverifikasi data. Peter Marcovici, Intuition Vs Rasionalisme Thinking.
Rasionalisme adalah berpikir, mencoba untuk benar dengan runtutan2 silogisme atau dengan hukum2 logika, itu disebutnya sebagai RASIONALISME. Jadi misalkan rasionalisme itu contohnya lima adalah pasti lebih besar daripada tiga. Nah itu kan rasioa kan? rasionalisme. Jadi kalau misalkan berpikir secara konseptual, maka lima itu pasti lebih banyak daripada TIGA. Dan tiga pasti lebih sedikit daripada LIMA. Atau misalkan dengan mode silogisme yang sederhana, atau misalkan seluruh warga bandung itu adalah orang2 yang rupawan. Guru gembul adalah orang bandung, maka kesimpulanya guru gembul adalah orang yang rupawan. Nah misalkan seperti itu, itu adalah mode2 berpikir yang paling sederhana, misalkan seperti itu. Nah ini sangat susah, karena walaupun manusia sebenarnya diberkahi ilmu, untuk menjadi sangat rasional, tetapi seringkali ilmu yang rasional itu berbenturan dengan NAFSU, EMOSI, EGO, dan sebagainya yang sudah dibahas di beberapa episode yang lampau. Sehingga misalkan kita mau rasionalisme itu tidak menyenangkan diri kita. Kan kadang2 rasionalisme itu membuat sebuah kesimpulan yang sakit, yang pahit, nah untuk menghindarkan itu biasanya kita akan berbalik, menghindarkan rasionalisme. Bahkan ada orang2 yang kemudian mengingkari menghindari, logika kita mah gak akan sampai... gak usah berpikir ini secara penuh, jangan terlalu berpikir secara rasional dan sebagainya gitu.
Ya memang, otak kita, rasio kita itu terbatas. Nanti kita akan bahas, dimana batasan rasio kita. Itu memang benar, tetapi batasan rasio yang paling besar, itu adalah ketika seseorang meremehkan rasionya sendiri. Itu mode Rasionalisme yang susah sekali orang gapai. Tetapi itu ada kelemahanya, rasio kita itu dibatasi oleh Pengetahuan KITA. DIBATASI oleh kesadaran kita.
Rasio manusia dibatasi oleh PENGETAHUANYA. Dan pengetahuan muncul dari pengalamanya. Jadi apa yang biasanya dirasionalisasi manusia sebenarnya berasal dari pengalaman pribadinya. John Locke
Misalkan saya yakin, keluarga yang meninggal di Kalideres itu pasti menganut sekte tertentu. Ya secara logika aja bayangkan, itu kan orang meninggal disitu satu demi satu gak bilang siapapun, gak bilang apa tetapi mereka memutuskan untuk meninggal bersama2. Itu pasti sekte bunuh diri atau yang semacam itu. Nah itu menggunakan logika kan? Masuk akal gak? masuk akal, tetapi setelah diselidiki dan lain sebagainya, ternyata salah, bukan gara2 sekte tertentu. TETAPI ya karena masalah2 mental tertentu, kan begitu... NaH darisitu adalah kelemahan daripada metode rasionalisme. Metode rasionalisme kita itu terbatas. Lalu apa yang melampauinya, yang lebih tinggi daripada rasionalisme?
METODE BERPIKIR: STUDI EMPIRIS (5)
.
Nah seperti kasus yang tadi itu, Kasus di Kalideres awalnya diduga adalah sekte tertentu. Secara rasional itu sah, masuk akal. TAPI setelah dibuktikan secara empirisme, terbukti tidak. Apa itu empirisme? Empirisme itu adalah sebuah mode berpengetahuan, dengan mengalami, atau dengan menguji. Atau dengan mengetahui tentang pengalaman.
Seseorang hanya dapat mengklaim memiliki pengetahuan saat seseorang memiliki kepercayaan yang benar berdasarkan bukti empiris. Yaitu bukti2 yang bisa diuji kebenaranya di semua keadaanya. The American Heritage Dictionary.
Jadi misalkan ada sesuatu, kemudian sesuatu tersebut kita simpulkan ini beracun, ada air beracun. Secara logika, ini beracun, karena apa? karena ada buih2nya misalkan. Ini secara rasional ini beracun karena ada buihnya. Nah ini belum sah, bisa jadi ada buihnya itu karena ada sesuatu yang lain. Ya kan, misalkan ngaduknya terlalu kenceng, atau ngaduknya seperti superman, bisa aja. TAPI harus dibuktikan secara empiris, jadi diteguk.. misalnya. Misalnya dicicipi oleh hewan, oh bener mati, berarti... ini beracun. Atau yang tidak seperti itu kita melakukan uji lab, ternyata ini mengandung kandungan2 yang ketika diujikan kepada makhluk yang lain ternyata memang terbukti mati atau terbukti merusak, maka secara empiris, ini adalah beracun. Begitu ya...
Dalam empirisme, pengetahuan disebut sebagai POSTERIORI, atau dari yang terakhir. Yang berarti seseorang bisa dikatakan mengetahui setelah mengalami. Pada perkembanganya, empirisme, berarti kita mengetahui setelah ada data tentang pengalaman atau pengujian. Rahul Awati Emphirisme, Whatis.com
Nah mode seperti ini, adalah mode berpengetahuan yang jauh lebih sulit lagi. Karena untuk bisa mengetahui, kita membutuhkan sebuah data. Jadi inget, empirisme itu bukan hanya mengalami sekali, tetapi pengalaman itu atau pengujian itu terjadi berkali kali di seluruh kondisi. Itu yang namanya Empirisme. Jadi jangan hanya gara2 misalnya, saya makan jambu batu, kemudian saya jadi susah eek. Maka kesimpulanya adalah secara empiris, makan jambu batu itu membuat saya susah eek. Ya gak gitu baraya... uji ke banyak orang, dari ke banyak orang itu dari berbagai kondisi, dari berbagai ras, dari berbagai.... kalau hasilnya sama, maka kesimpulanya adalah bahwa jambu batu itu membuat susah eek. Begitu... makanya emphirisme itu berdasarkan data, atau berdasarkan statistik. Jadi jangan disangka, misalkan ada orang yang mengatakan bahwa Saya waktu kena covid baik2 saja, tidak begitu, itu pengalaman pribadi, tapi mengalahkan statistik. Padahal statistik itu adalah kumpulan dari pengalaman banyak sekali orang. Jangan jadikan kasus2 tertentu itu sebagai penyangkal dari konsensus, atau dari sesuatu yang lebih besar. lebih banyak.
Salah satu cacat logika yang sering terjadi adalah ANECDOTAL yaitu menggunakan pengalaman pribadi atau kesaksian seseorang untuk menyanggah data yang dapat diuji akuntabilitasnya.
Saya bilang tadi, metode ini levelnya sudah level 5, sudah level yang susah banget. TAPI tetep ada kelemahanya, dan kita membutuhkan metode berpengetahuan yang keenam. Yaitu apa? kita berpengetahuan secara scientis.
Metode Berpikir : Scientis (6)
.
Apa itu Scientis? semua model2 metode berpikir itu kita lakukan dan dilakukan dalam kondisi penuh, atau dalam kondisi yang terkontrol. Misalkan begini, atau misalkan saya ambil contoh kasus cacat berpikir yang luar biasa besar pengaruhnya di Indonesia. BOSS DARLING. Boss darling itu pernah mengeluarkan sebuah statement bahwa bumi itu datar, langit itu ada kubahnya, ada kubah langit. Dan America + UNI SOVIET sejak tahun 1958 sampai tahun 1962, itu mencoba untuk menghancurkan kubah langit itu dengan membom nuklir. Kemudian ada penyanggahnya, pak bos darling maaf, itu bukan untuk menghancurkan kubah langit, tapi itu untuk uji coba terhadap nuklir. Jadi Soviet dan America pada waktu itu perang dingin, kemudian mereka melakukan uji coba terhadap senjata nuklir yang mereka miliki.
Jadi
di darat, sudah terjadi... dilakukan
di laut, sudah terjadi... dilakukan
Nah ini yang di udaranya, itu bukan ngebom kubah langit. Kayak gitu ya...kemudian bos darling mengatakan, gunakan otak intel anda, gunakan otak detectif anda, kan namanya saja operasi ball fish, operasi mangkuk ikan. Berarti kita itu ikan yang ada di dalam aquarium ball gitu, kemudian kita itu mau keluar. Nah itu logika berpikirnya seperti itu. Nah itu bukan logika berpikir, tapi itu cacat logika. Itu adalah mode berpikir yang kesatu dan kedua tadi itu. Sebab kalau dilakukan secara scientis, yang dilakukan itu.. ini dari metode berpikir scientis, atau metode berpengetahuan scientis. NOMOR satu itu adalah kita kumpulkan sumber sebanyak banyaknya. Yang pro.. maupun yang kontra, dari berbagai perspektif, dari berbagai orang, dari berbagai bangsa, kumpulkan sebanyak banyaknya, semakin banyak, semakin bagus. Setelah dikumpulkan sebanyak banyaknya, kita melakukan verifikasi terhadap sumber2 yang dimaksud itu. Verifikasinya terdiri dari dua bagian, dua dimensi, yaitu internal dan eksternal. JADI misalkan kita dapat sebuah buku, bukunya itu berjudul misalkan BORO BUDUR buatan alien. Kritik secara internal, mungkinkah alien datang ke bumi? mungkinkan memang seperti ini, seperti ini,,,, lalu melakukan verifikasi terhadap semua sumber2 dengan cara yang seperti itu. Kemudian metode Eksternal, jadi apakah2 sumber2 tentang alien ini nyata? atau ada? atau terbukti atau terverifikasi dan sebagainya. Nah untuk mengetahui validitas satu sumber tertentu itu kita membutuhkan banyak sekali ilmu pendukung. Misalkan untuk mengetahui Candi Borobudur saja, kita membutuhkan epigrafi, paleoanthropology, sejarah, geologi, geografi, dan lain sebagainya.
Untuk melakukan verifikasi satu sumber saja, kita membutuhkan banyak untuk kritik eksternal saja. Untuk memverifikasi secara eksternal saja, belum internal. Nah setelah sumber2 itu kita kelola dengan cara seperti itu, barulah kita mengeluarkan INTERPRETASI. Jadi interpretasi itu setelah banyak sumber kita kumpulkan kemudian kita saring. Bukan gara2 lihat itu namanya.. fish bawl, berarti itu levelnya paling bawah baraya. Sayang sekali, kenapa orang yang seperti itu banyak pengikutnya. Makanya banyak orang2 yang akhirnya berpikirnya salah, cacat berpikir, cacat logika. Karena tidak berpikir secara scientis, karena gagal berpikir secara scientis, maka dia katakan berpikir secara scientis itu salah. Tolong ingatkan bro gamal, yang suka ikut2an suka theory konspirasi, tolonglah belajar metodologi berpengetahuan, belajar metode berpikir, belajar metode untuk memahami sesuatu, belajar untuk memverifikasi sumber. Ada ilmunya semacam itu dan ilmu semacam itu harus ada di UNIVERSITAS yang spesialis di bidang itu. Jadi jangan hanya dapat dari kaskus, kemudian kita langsung percaya, dan lain sebagainya.. ya gak seperti itu baraya.
- Scientific Methods
- Purpose
- Research
- Hyphotesis
- Experiment
- Analysis
- Conclusion
Tetapi metode berpengetahuan itu ribet banget, harus memverifikasi dan sebagainya harus mengetahui cabang ilmu dan sebagainya. Ya memang betul, makanya untuk mengambil sebuah kesimpulan, para ilmuan itu butuh waktu 20 tahun, 30 tahun untuk meneliti satu tema yang sama. Kalau kita sekarang kan hanya mengetahui tentang TRIVIA, pada faktanya adalah fun factnya adalah .. seperti ini seperti ini. Dengan bangga kita kasih tahu mengetahui seperti ini seperti itu dan sebagainya. PADAHAL sebenarnya kita tidak mengetahui. Yang proses untuk menghasilkan kesimpulan itu butuh waktu puluhan tahun. Yang dilakukan oleh banyak sekali professor, yang mendalami banyak sekali cabang ilmu pengetahuan. Nah makanya, kalaupun kita tidak bisa, kalau kita tidak bisa menjangkau mode berpengetahuan yang keenam barusan itu, yang katanya susah sekali itu, ya setidaknya kita mengambil yang otoritatif tadi itu. Mengambil berdasarkan orang2 yang memang hebat, orang2 yang menurut kita memiliki otoritas di dalam pengetahuan tertentu itu. Dengan syarat, kita melabeli orang ini berpengetahuan tertentu atau ahli di bidang tertentu, berdasarkan nalar, berdasarkan rasio.
BERPIKIR ILMIAH adalah jenis pencarian pengetahuan yang melibatkan pencarian informasi yang disengaja, termasuk mengajukan pertanyaan, melakukan uji hipotesis, melakukan observasi, mengenali pola, dan membuat kesimpulan. BJ. MORRISS dkk. The Emergence of Scientific Reasoning
Jangan gara2 dogma, oh ini menurut saya hebat, jangan demikian... Dan tentu saja harus kita garis bawahi bahwa di dunia akademis, di dunia ilmiah, apa yang kita maksud dengan pengetahuan itu adalah sesuatu yang relatif. Sangat mungkin bisa berubah, sangat mungkin bisa terbongkar. Sangat mungkin juga, apa yang dilakukan atau diteliti selama puluhan tahun itu SALAH, itu bisa saja terjadi. Maka tetaplah berpikir kritis, tetaplah membuka segala kemungkinan. Oke baraya, itu saja ya.. terimakasih sudah menyimak...
Komentar
Posting Komentar